BALANGAN – Lingkungan belajar yang nyaman, menarik, dan inspiratif menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Berangkat dari kondisi ruang kelas yang masih didominasi dinding kosong dan tampilan monoton, SD Negeri Lasung Batu 2 menghadirkan inovasi Dikcara (Dinding Kelas Berbicara) sebagai media pembelajaran visual yang edukatif dan membangun karakter.
Inovasi yang digagas Kepala SD Negeri Lasung Batu 2, Akhmad Maidinor, mengubah dinding-dinding kelas menjadi sarana belajar melalui mural edukatif, kutipan motivasi, nilai-nilai karakter, serta berbagai ilustrasi yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta didik.
Menurut Akhmad Maidinor, inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan belajar yang dinilai belum mampu memberikan stimulasi visual yang mendukung proses pembelajaran.
“Sebagai sekolah dasar di Kecamatan Paringin dengan jumlah siswa yang cukup banyak, SD Negeri Lasung Batu 2 membutuhkan inovasi sederhana namun berdampak besar dalam membangun semangat belajar serta memperkuat pendidikan karakter,” ujarnya, Sabtu (18/7/26).
Ia menjelaskan, sebelum Dikcara diterapkan, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan identifikasi kondisi ruang kelas, berdiskusi dengan para guru, mempelajari berbagai referensi media pembelajaran visual, serta berkonsultasi dengan komite sekolah dan orang tua.
“Hasilnya, konsep Dinding Kelas Berbicara mulai diimplementasikan pada tahun 2024 secara kolaboratif bersama guru, alumni, dan pihak yang peduli terhadap pengembangan lingkungan belajar,” ungkapnya.
Akhmad Maidinor mengatakan, penerapan Dikcara memberikan dampak positif terhadap suasana belajar. Kelas menjadi lebih ceria, nyaman, dan menyenangkan, sementara peserta didik menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi karena dapat belajar tidak hanya melalui buku, tetapi juga dari lingkungan di sekitarnya.
“Keunggulan Dikcara terletak pada kemampuannya memanfaatkan ruang yang sebelumnya tidak produktif menjadi media pembelajaran efektif, sekaligus mendukung implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Desain mural juga disusun tematik agar sesuai perkembangan psikologis siswa di setiap jenjang kelas,” jelasnya.
Keberhasilan inovasi tersebut kini mulai menginspirasi sekolah lain di Kabupaten Balangan. Bahkan, layanan pembuatan mural edukatif berkembang sebagai bentuk kolaborasi antarsekolah.
“Hingga saat ini, hampir separuh sekolah di Kabupaten Balangan telah terinspirasi dan memanfaatkan konsep maupun layanan tersebut,” katanya.
Ia meyakini pendidikan tidak hanya berlangsung saat guru mengajar di depan kelas, tetapi juga melalui lingkungan belajar yang mampu memberikan pesan positif setiap hari.
“Kami mengharapkan melalui Dikcara, SD Negeri Lasung Batu 2 membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan teknologi rumit atau biaya tinggi. Dengan kreativitas, kepemimpinan visioner, dan kolaborasi, ruang kelas dapat bertransformasi menjadi media pembelajaran yang membangun karakter, meningkatkan motivasi, serta menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih humanis, inovatif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: Ande
















