BANJARMASIN – Tim Program Pengabdian Masyrakat BIMA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menyerahkan satu unit mesin pencacah plastik kepada Bank Sampah Baiman Cempaka Raya, tepatnya di lingkungan RT 43, Gang Mayang Murai, Kelurahan Telaga Biru, Kota Banjarmasin, Rabu (19/8/26) sore.
Bantuan tersebut diserahkan langsung Ketua Tim Pengabdian, Dr. Irwansyah, S.Sos., M.Si., didampingi anggota tim dosen, Dr. Sri Astuty, S.Sos., M.Si. dan Akhmad Syarief, S.T., M.T.
Penyerahan diterima Ketua Ketua Karang Taruna Cempaka Raya, Sulistyo, serta dihadiri komunitas pegiat lingkungan dan masyarakat setempat.
Program tersebut merupakan bagian dari pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.
Yang mana dalam pelaksanaannya, tim pengabdian ULM juga melibatkan mahasiswa. Melalui kegiatan bertema “Diseminasi Pemberdayaan Bank Sampah dengan Teknologi Pembuatan Paving Plastik Menuju Zero Waste Production Management di Kelurahan Telaga Biru Kota Banjarmasin”.

ULM Serahkan Mesin Pencacah Plastik untuk Dukung Pengelolaan Sampah
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Irwansyah mengatakan penyerahan mesin pencacah plastik merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian kepada masyarakat BIMA dari Kemendiktisaintek.
“Ini adalah diseminasi terkait program, terutama program pengabdian masyarakat BIMA, yaitu kami penyerahan satu buah alat pencacah plastik untuk Bank Sampah Baiman Cempaka Raya Baiman,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dr Irwansyah mengatakan, pihaknya juga nantinya akan menyerahkan satu buah mesin lagi, yakni mesin peleleh yang nantinya sebagai pelengkap pengelolaan sampah plastik menjadi vaping blok.
“Jadi nanti satu lagi alat lagi akan kami berikan, yaitu alat peleleh. Kemudian dari alat peleleh itu dibuat menjadi paving,” ujarnya.
Mesin Peleleh Disiapkan untuk Produksi Paving dari Limbah Plastik
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa pihaknya juga akan berperan aktif dalam melakukan pembinaan dan monitoring kepada para penggiat lingkungan dalam pengelolaan vaping tersebut.
“Kami akan melakukan monitoring dan pendampingan setelah kegiatan ini,” katanya.
Ia pun berharap, Bank Sampah Baiman Cempaka Raya dapat berkembang menjadi bank sampah percontohan yang nantinya bisa menjadi rujukan bagi bank sampah lainnya di Kota Banjarmasin.
“Kami berharap nantinya Bank Sampah Cempaka Raya Baiman ini menjadi semacam bank sampah percontohan bagi bank sampah lainnya,” ungkapnya.
Irwansyah menambahkan, program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan alat, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah di masyarakat.
“Harapan kami dengan adanya pengabdian masyarakat, terutama program BIMA dari Kemendiktisaintek ini, sesuai dengan slogannya adalah bagaimana berdampak. Kami ingin memberikan dampak yang nyata, yaitu berupa alat ini, sehingga menjadi motivasi, terutama dalam penanganan sampah di Kota Banjarmasin,” jelasnya.
Bank Sampah Baiman Targetkan Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Cempaka Raya, Sulistyo menyambut baik bantuan mesin pencacah plastik yang diberikan.
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim dosen ULM yang telah memberikan perhatian terhadap pengelolaan lingkungan di wilayahnya.
“Kami atas nama kepengurusan Bank Sampah Baiman Cempaka Raya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas atensi dan perhatian dari tim dosen mengabdi dari ULM. Mudah-mudahan apa yang diberikan bisa menjadi manfaat untuk masyarakat dan menambah semangat warga untuk memilah sampah dari rumah,” ujarnya.
Menurut Sulistyo, peralatan yang telah diterima akan dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kegiatan pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
“Setelah ini alat-alat sudah kita terima. Insyaallah alat tersebut akan kita maksimalkan penggunaannya. Mudah-mudahan benar-benar dari RT sini bisa zero sampah,” katanya.
Kolaborasi Masyarakat Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah
Dalam pengelolaannya nantinya, Sulistyo mengatakan pihaknya dari Bank Sampah Baiman juga akan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Karang Taruna, relawan pemadam kebakaran, ibu-ibu Dasawisma, hingga tokoh masyarakat setempat.
“Nanti kami akan melibatkan kawan-kawan Karang Taruna, relawan Damkar, ibu-ibu Dasawisma, dan para tokoh masyarakat yang berkegiatan atau berempati untuk menjaga lingkungan,” tuturnya.
Sehingga nantinya, plastik yang selama ini dikumpulkan dan dipilah masyarakat nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan paving.
Untuk tahap awal ujarnya, paving yang dihasilkan akan digunakan di lingkungan masyarakat sebagai produk percontohan.
“Rencananya nanti paling tidak setelah ada paving, kami mau berdikari sendiri membuat paving. Jadi sampah yang kita pilah, plastik-plastik kita kumpulkan, kita jadikan paving,” jelasnya.
“Untuk sementara kita pakai di masyarakat, untuk percontohan dulu. Kalau sudah skala besar, baru kita bisa perjualbelikan,” sambungnya.
Ia berharap keberadaan program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
“Harapan kami sebagai pengelola Bank Sampah, mudah-mudahan ke depannya masyarakat semakin giat, semakin semangat, dan peduli akan lingkungan sehingga benar-benar memilah sampah dari rumah,” ujarnya.
Sulistyo juga berharap dukungan terhadap pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat terus diperkuat, baik melalui perguruan tinggi maupun pemerintah.
“Untuk pemerintah, lebih memperhatikan hal-hal seperti ini kepada masyarakat. Mudah-mudahan program-program seperti ini bisa berkelanjutan dan tidak tertumpu pada satu titik. Mudah-mudahan bisa di segenap penjuru Banjarmasin,” harapnya.
Melalui kolaborasi antara ULM, Bank Sampah Baiman, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan masyarakat, program tersebut diharapkan mampu mendorong pengelolaan sampah yang lebih produktif sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah plastik menjadi produk bernilai guna. (Adv/Ilh)
















