BANJARMASIN – Operasi pencarian korban kecelakaan KMP Virgo Transport 8 memasuki hari ke-21 dengan perubahan strategi. Tim SAR gabungan kini memperkuat penyisiran di permukaan laut dan kawasan pesisir setelah pencarian di dalam bangkai kapal tidak lagi menunjukkan hasil.
Hingga Sabtu (3/10), sebanyak 188 korban telah ditemukan dan dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan 80 lainnya meninggal dunia. Sementara 55 korban masih dalam proses pencarian.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, keputusan mengubah pola pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi bangkai kapal yang semakin berisiko bagi penyelam.
“Kapal berisiko mengalami perubahan kemiringan atau pergeseran secara mendadak yang dapat membahayakan penyelam di dalam lambung serta visibilitas yang terbatas akibat endapan sedimen dan puing (debris) rawan memicu disorientasi,” kata Syafii.
Sebelumnya, tim penyelam telah berhasil masuk sekitar 10 hingga 15 meter ke bagian dalam kapal dan membuka sejumlah akses. Namun, sejak hari ke-19 operasi, tidak ditemukan lagi korban di dalam bangkai kapal.
Kondisi tersebut membuat pencarian berikutnya lebih diarahkan pada kemungkinan korban terbawa arus dan hanyut menuju wilayah pesisir. Basarnas akan kembali menghitung pola angin, gelombang, serta arus laut untuk menentukan area yang berpotensi menjadi lokasi ditemukannya korban.
Penyisiran kini mencakup wilayah laut dan garis pantai di tiga provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Pencarian di dalam bangkai kapal sebelumnya dilakukan pada kedalaman sekitar 27 meter. Selain kondisi kapal yang tidak stabil, penyelam juga menghadapi jarak pandang terbatas akibat sedimen dan puing, material tajam, serta tumpahan minyak di ruang-ruang sempit.
Penggunaan tabung scuba pada kedalaman tersebut juga membatasi waktu penyelaman. Dalam setiap sesi, penyelam hanya memiliki waktu efektif sekitar 20 menit.
Selama 21 hari operasi, lebih dari 1.200 personel gabungan dari TNI, Polri, kementerian/lembaga hingga unsur swasta telah dikerahkan. Operasi tersebut didukung 24 kapal besar, tujuh pesawat udara dan 63 penyelam spesialis underwater SAR.
Di tengah perubahan pola pencarian, pemerintah juga mendorong proses salvage untuk menstabilkan sekaligus mengangkat badan kapal. Langkah tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.
Syafii memastikan pencarian di dalam badan kapal tidak sepenuhnya dihentikan. Namun, penyelaman baru akan kembali dilakukan setelah bangkai kapal berhasil diangkat dan dinyatakan aman.
“Pencarian di dalam lambung kapal akan kembali dilakukan secara terukur setelah badan kapal berhasil diangkat dan dinyatakan dalam kondisi stabil,” jelasnya.
Sambil menunggu proses tersebut, operasi SAR tetap dilanjutkan dengan mengoptimalkan pencarian di permukaan laut dan sepanjang garis pantai. Tim berharap penyisiran di wilayah yang lebih luas dapat membantu menemukan 55 korban yang hingga kini masih dalam pencarian.
















