SEMARANG – Kafilah Kalimantan Selatan tidak sekadar mengikuti Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). Melalui mobil hias yang ditampilkan, Kalsel membawa cerita tentang kehidupan masyarakat Banua yang lekat dengan agama, budaya, sungai, hingga kehidupan keluarga.
Mengusung tema “Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Budaya Banua”, mobil hias Kalsel dirancang dengan memadukan nilai-nilai keislaman dan sejumlah ikon budaya khas daerah. Tampilan tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana Al-Qur’an ditempatkan sebagai pedoman kehidupan tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, H. Fahrurrazi, S.Pd, MM, mengatakan konsep tersebut sengaja dibangun untuk menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat yang menyaksikan pawai.
“Melalui mobil hias ini, kita ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dapat berjalan harmonis dengan budaya dan kearifan lokal Banua. Al-Qur’an menjadi cahaya yang menuntun kehidupan, sementara budaya menjadi identitas yang terus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.
Al-Qur’an menjadi bagian utama dari desain mobil hias sebagai simbol sumber cahaya dan petunjuk kehidupan. Kehadirannya menggambarkan harapan agar nilai-nilai Qur’ani dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga beriman dan berakhlak.
Cerita tentang kehidupan Banua kemudian divisualisasikan melalui jukung dan Pasar Terapung. Kedua ikon tersebut dipilih untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Kalsel yang sejak lama memiliki keterikatan kuat dengan sungai.
“Nuansa kehidupan masyarakat Banua kami tampilkan melalui jukung dan Pasar Terapung. Jukung menggambarkan kedekatan masyarakat Kalimantan Selatan dengan sungai, sekaligus mencerminkan ketangguhan dan kearifan lokal yang tumbuh dari kehidupan di lingkungan perairan,” sambungnya.
Pasar Terapung tidak hanya ditampilkan sebagai ikon wisata, tetapi juga menjadi gambaran aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai keramahan, kebersamaan, kejujuran, serta amanah yang dinilai selaras dengan ajaran Al-Qur’an.
Identitas budaya lainnya hadir melalui Kain Sasirangan. Motif dan warna kain khas Kalsel tersebut menggambarkan keberagaman yang tetap dapat menyatu dalam sebuah harmoni.
“Kain Sasirangan juga menjadi bagian penting dalam tampilan mobil hias ini. Sasirangan merupakan salah satu identitas budaya Kalsel yang menggambarkan keberagaman, namun tetap dapat berpadu dalam harmoni dan berjalan beriringan dengan nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Pesan tentang kehidupan beragama juga diperkuat dengan keberadaan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Masjid tersebut merepresentasikan peran rumah ibadah sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, dakwah, sekaligus tempat berkembangnya nilai-nilai Al-Qur’an.
Sementara itu, sepasang pengantin dengan pakaian adat Banjar menjadi simbol keberlanjutan generasi. Kehadiran keduanya menggambarkan keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal agama, pendidikan, budaya, dan akhlak.
“Gambaran keberlanjutan generasi kami tampilkan melalui sepasang pengantin dengan pakaian adat Banjar. Ini merepresentasikan keluarga sebagai tempat pertama untuk menanamkan nilai agama, pendidikan, dan akhlak kepada generasi penerus,” ungkapnya.
Menurut Fahrurrazi, seluruh ornamen tersebut sengaja disusun sebagai satu kesatuan cerita. Tidak ada unsur yang berdiri sendiri karena masing-masing menggambarkan bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.
“Ini bukan sekadar tampilan visual, tetapi juga membawa pesan tentang kehidupan masyarakat Kalsel yang beriman, berbudaya, menjunjung kebersamaan, serta berkomitmen melahirkan generasi Qur’ani,” sebutnya.
Dari rangkaian tersebut, mobil hias Kalsel menggambarkan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk, masjid sebagai pusat pembinaan umat, keluarga sebagai tempat tumbuhnya generasi, serta budaya sebagai identitas masyarakat. Sementara jukung dan Pasar Terapung menjadi representasi kehidupan Banua yang tumbuh bersama sungai.
Keikutsertaan Kalsel dalam Pawai Ta’aruf juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat dari berbagai provinsi. Namun, pesan yang dibawa tidak berhenti pada pengenalan budaya semata.
“Keikutsertaan dalam pawai ini juga menjadi bagian dari syiar Al-Qur’an. Pesan yang kami bawa tidak hanya sebatas membaca dan melombakan Al-Qur’an, tetapi bagaimana nilai-nilainya dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” bebernya.
Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI sendiri dimulai dari Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda dan berakhir di Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan. Kegiatan tersebut diikuti kafilah dari berbagai provinsi di Indonesia.
Fahrurrazi berharap keikutsertaan Kalsel tidak hanya menjadi ajang menampilkan identitas daerah, tetapi juga memperkuat hubungan antarkafilah dan semangat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.
“Harapannya, kehadiran Kafilah Kalsel dalam Pawai Ta’aruf ini dapat memperkuat semangat kebersamaan dan persaudaraan antarkafilah, sekaligus menjadi bagian dari syiar Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat,” tandasnya.
Melalui mobil hias tersebut, Kalsel membawa satu rangkaian pesan yang mempertemukan agama dan budaya. Pesan itu sejalan dengan tema MTQ Nasional XXXI, “Menggali Al-Qur’an, Mewujudkan Generasi Qur’ani”, sekaligus moto daerah, “Banua Berakhlak, Kalsel Berkah”.
















