KABUPATEN BANJAR – Puluhan siswa SMAN 1 Pengaron dibekali literasi digital dan keterampilan membuat konten melalui pelatihan yang menghadirkan praktisi media dan pengelola media sosial dengan menggaet Komunitas Wartawan dan Admin Media Sosial (KOWAS).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 25 siswa dari kelas X dan XI. Mereka tidak hanya diajak memahami cara membuat konten, tetapi juga belajar menentukan ide, tujuan, dan pesan yang ingin disampaikan, hingga memahami dampak dari setiap informasi yang dipublikasikan di media sosial.
Sebuah konten mungkin hanya berdurasi beberapa detik. Namun, di baliknya terdapat proses yang tidak selalu terlihat, mulai dari mencari ide, menentukan tujuan, mengambil gambar, menyusun pesan, hingga memikirkan bagaimana konten tersebut diterima orang lain.
Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang dibagikan para praktisi media dalam pelatihan di SMAN 1 Pengaron.
Perwakilan KOWAS, Roly Supriadi mengajak siswa melihat media sosial tidak hanya sebagai tempat untuk mengunggah sesuatu yang mereka buat. Menurutnya, sebuah konten sebaiknya memiliki arah dan tujuan.
Ia menilai para siswa sebenarnya sudah memiliki potensi dalam membuat konten. Kemampuan berbicara, mengambil gambar, menentukan view dan angle, dinilai sudah terlihat dalam diri mereka.
Persoalannya, potensi tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti sekadar menjadi aktivitas mengisi media sosial.
“Pada dasarnya mereka bagus, sangat bagus. Mereka mempunyai olah vokal yang bagus, konten-konten yang bagus, cara mengambil view dan angle yang bagus,” ujar Roly saat pembukaan kegiatan pada hari pertama, Rabu (10/9/26).
Menurutnya, sebagian siswa sebelumnya mungkin membuat video hanya untuk koleksi pribadi, kemudian langsung mengunggahnya tanpa melalui proses perencanaan yang matang.
Dari sinilah pentingnya menentukan tujuan sebelum membuat sebuah konten.
Roly menekankan bahwa sebuah pekerjaan, termasuk membuat konten, membutuhkan tujuan yang jelas. Kreativitas akan lebih berarti ketika pembuatnya mengetahui apa yang ingin disampaikan dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan.
Di sisi lain, perkembangan media sosial juga menghadirkan tantangan baru. Algoritma berubah, tren berganti, dan pola konsumsi informasi terus bergerak. Namun, satu hal tidak boleh ikut berubah, yakni etika.
“Jadi, siswa harus memahami batasan dalam bermedia sosial, sehingga konten yang dibuat tidak berujung pada cyberbullying maupun persoalan hukum,” pesan Roly.
Sementara itu, PT Kadya Caraka Mulia (KCM) yang turut mendukung pelaksanaan pelatihan tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong siswa agar lebih siap menghadapi perkembangan dunia digital.
Dukungan itu tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada pemberian kesempatan kepada para siswa untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan langsung dari para praktisi.
Dukungan itu disampaikan melalui perwakilannya, Budi Samudera yang mendorong para siswa memanfaatkan kesempatan belajar bersama para praktisi.
Menurutnya, kemampuan membuat konten, menyusun informasi, membuat judul dan caption hingga merespons komentar merupakan keterampilan yang dapat berguna di masa depan.
“Adik-adik bisa belajar bagaimana membuat konten yang menarik sekaligus memiliki nilai ekonomi. Keterampilan digital ini nantinya bisa dikembangkan menjadi peluang ekonomi,” katanya.
Terpisah, Kepala SMAN 1 Pengaron, Ahmad Haitomi meminta para siswa memanfaatkan kesempatan belajar langsung dari para praktisi secara maksimal. Terlebih, kegiatan tersebut hanya berlangsung selama dua hari.
Menurut Ahmad, kemampuan membuat konten perlu dibarengi dengan sikap bijak dalam menyampaikan informasi. Siswa tidak hanya dituntut mampu menghasilkan konten, tetapi juga harus memahami apa yang ingin disampaikan sebelum membagikannya kepada publik.
“Tuliskan apa yang kalian pikirkan. Tetapi, kembali lagi, pikirkan apa yang kalian tuliskan,” ujarnya.
Pesan tersebut, ujarnya menjadi pengingat bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup.
Ia meminta siswa juga perlu memahami kapan harus berbicara, apa yang layak dibagikan, serta bagaimana sebuah tulisan maupun unggahan dapat diterima oleh orang lain.
“Keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang produktif. Kemampuan membuat konten tidak hanya dapat digunakan untuk aktivitas di media sosial, tetapi juga bisa menjadi bekal untuk membuka peluang ekonomi,” jelasnya.
Di sisi lain, bagi siswa yang tergabung dalam OSIS, keterampilan tersebut bahkan dapat langsung diterapkan untuk mendukung publikasi berbagai kegiatan sekolah, mulai dari pengambilan dokumentasi hingga penyampaian informasi melalui media sosial.
Dengan demikian, pelatihan tersebut tidak sekadar mengajarkan siswa bagaimana menjadi kreator konten. Lebih dari itu, siswa diajak memahami bahwa setiap konten membawa pesan dan setiap pesan memiliki dampak.
“Konten yang baik bukan hanya tentang bagaimana sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang informasi yang disampaikan, cara menyampaikannya, serta manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain,” pungkas Ahmad.
















