BANJARBARU – Relawan Driver Ojek Online (Ojol) bersama Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Selatan menyalurkan bantuan berupa 1.000 masker dan uang operasional kepada para relawan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru.
Bantuan diserahkan langsung oleh perwakilan Ojol dan APBMI kepada Ketua Umum Banjarbaru Rescue (Barres) 698, Rudi, di posko siaga relawan kawasan Jalan Tambak Bulu, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru, Senin (24/8/26) sore.
Salah satu driver ojol, Midi mengatakan bantuan yang diberikan berupa 1.000 masker dan sejumlah uang yang diharapkan dapat membantu kebutuhan operasional para relawan di lapangan.
“Berupa masker sama bantuan uang. Kalau masker ada seribu masker, 1.000 pcs,” ujar Midi.
Menurutnya, bantuan uang tersebut nantinya dapat dimanfaatkan para relawan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), termasuk untuk kebutuhan mesin alkon yang digunakan dalam proses pemadaman.
“Uang itu mungkin digunakan untuk teman-teman relawan untuk mengisi BBM, bahan bakar untuk mesin alkon. Mungkin karena tidak dapat bantuan uang, mudah-mudahan bermanfaat,” katanya.
Midi menyebut bantuan tersebut juga berasal dari para donatur yang ikut peduli terhadap kondisi karhutla di Banjarbaru.
“Alhamdulillah dari donatur ada yang menyumbangkan,” ungkapnya.
Selain menyerahkan bantuan kepada relawan, para driver ojol sebelumnya juga membagikan masker kepada masyarakat di sejumlah titik jalan, termasuk kawasan lampu merah.
“Kepada masyarakat yang tidak menggunakan masker, kita suruh pakai masker,” ujarnya.
Kondisi kabut asap yang cukup pekat juga dirasakan langsung para driver ojol yang setiap hari beraktivitas di jalan raya.
Midi mengatakan, kabut asap bahkan memengaruhi aktivitas para pengemudi, terutama pada pagi hari ketika jarak pandang sangat terbatas.
“Kalau memang di pagi hari, di pagi hari itu memang kita tidak bisa on-bid sepenuhnya seperti hari biasa. Karena jarak pandang beberapa hari ke depan ada yang sampai lima meter saja,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dengan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
“Harapan kami sebagai relawan juga ojol, semoga ke depannya masyarakat yang tidak menggunakan masker bisa memakai masker karena kabut asap yang sangat tebal, terutama di pagi hari,” katanya.
Sementara itu, Ketua Banjarbaru Rescue (Barres) 698, Rudi mengatakan sejumlah wilayah di Banjarbaru masih menjadi titik perhatian dalam penanganan karhutla.
Beberapa di antaranya berada di kawasan Pengayuan, Tambak Sirang, Guntung Ujung hingga Guntung Damar.
“Kondisinya kalau saat ini kawan-kawan masih bekerja. Contoh di Pengayuan tadi masih pemadaman. Di perbatasan tetap berjaga,” jelas Rudi.
Menurutnya, para relawan menerapkan sistem piket selama 24 jam yang dibagi menjadi tiga sif untuk memastikan penanganan karhutla tetap berjalan.
“Kami piket di sini 1×24 jam, digilir dan dibagi menjadi tiga sif,” ungkapnya.
Rudi mengaku bantuan dari Ojol dan APBMI sangat membantu, terutama untuk menunjang kebutuhan operasional relawan yang hingga kini masih banyak mengandalkan swadaya.
“Alhamdulillah, kami terima kasih banyak atas perhatiannya. Jujur, kami sangat terbantu dengan adanya bantuan itu. Karena untuk saat ini kami masih mencari biaya operasional, seperti BBM untuk mobilisasi dan BBM untuk alat pemadam. Semua sementara masih swadaya,” ujarnya.
Ia mengatakan pihaknya telah mengajukan dukungan kepada pemerintah dan masih menunggu proses penganggaran melalui perubahan.
“Kami sudah mengajukan kepada pemerintah, menunggu di perubahan,” katanya.
Rudi juga berharap adanya perhatian lebih terhadap para relawan yang bertugas langsung di lapangan, khususnya menyangkut keselamatan dan perlengkapan pemadaman.
“Ya, kami berharap ada perhatiannya untuk kami, terutama untuk kawan-kawan relawan yang bertugas di lapangan. Utama untuk keselamatan kawan-kawan relawan juga, karena sementara ini kami masih menggunakan pengaman atau APD seadanya,” ungkapnya.
Banjarbaru Rescue 698 sendiri membawahi sejumlah unit pemadam kebakaran dan rescue yang beroperasi di wilayah Kota Banjarbaru.
“Kami membawahi beberapa PMK dan rescue yang ada di Banjarbaru. Totalnya ada 30 unit,” jelas Rudi.
Untuk kebutuhan yang paling mendesak, menurutnya, adalah BBM untuk menunjang mobilisasi dan operasional peralatan pemadam. Sementara untuk suplai air, pihaknya masih dapat membantu melalui armada tangki yang tersedia.
“Jelas BBM. Kalau air, ini masih kita bisa bantu kawan-kawan yang menggunakan tangki untuk suplai ke lokasi,” pungkasnya. (Ilh)
















