BANJARMASIN – Duka mendalam masih dirasakan keluarga dua siswa MTs Muhammadiyah Al-Furqan Banjarmasin, MFA (13) dan RAF (13), yang meninggal dunia setelah ditemukan di sebuah kolam saat mengikuti kegiatan Kemah Akbar di kawasan Kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Keluarga kedua korban kini meminta pihak kepolisian mengusut secara menyeluruh rangkaian kejadian tersebut. Mereka mempertanyakan proses pengawasan terhadap para siswa hingga bagaimana kedua korban bisa berada di dalam kolam.
Ibu korban MFA, Atikah masih tampak histeris ketika menceritakan kejadian yang menimpa anak sulungnya tersebut saat ditemui di kediaman nenek korban.
Atikah mengaku sejak pagi sudah berulang kali menghubungi MFA melalui telepon. Namun, panggilan tersebut tidak kunjung mendapat jawaban.
Karena khawatir, ia kemudian menghubungi orang tua teman anaknya untuk menanyakan keberadaan MFA.
Dari komunikasi tersebut, Atikah baru mengetahui bahwa anaknya ternyata sedang dicari.
“Ulun (saya) telepon sejak pagi tidak diangkat. Saya hubungi orang tua temannya, saya tanya, anak saya di mana? MFA lagi dicari. HP-nya sama ulun, Bu, jar kawan ulun,” cerita Atikah sembari meneteskan air mata.
Tak lama kemudian, orang tua teman MFA kembali menghubunginya dan meminta Atikah segera datang ke lokasi perkemahan.
Atikah yang semakin panik kemudian mencoba mencari informasi melalui grup sekolah dan menghubungi wali kelas.
“Nah terus tiba-tiba kawan ulun satunya telepon menangis-nangis, cepatati ikam ke sini! Jar anak ikam. Dan ulun langsung di grup sekolahnya, wali kelasnya. Tolongi pang anak ulun, Bu lah, tidak ada yang merespons,” ujarnya.
Ia juga sempat kebingungan mencari rumah sakit tempat MFA dibawa setelah dievakuasi.
“Tolong anak ulun dibawa ke mana? Jar ada yang mendahului ke sini, dicari-cari sampai ulun salah masuk rumah sakit. Mencari-cari, sekalinya lain. Akhirnya di seberang Green Palma 2 itu sekolah, rumah sakitnya,” katanya.
Atikah mengaku kecewa karena merasa pihak sekolah terlambat memberikan informasi kepada keluarga ketika MFA belum diketahui keberadaannya.
Menurutnya, keluarga semestinya segera dihubungi ketika seorang siswa diketahui hilang, sehingga pencarian dan pertolongan bisa dilakukan lebih cepat.
“Sekolahnya pun lambat memberitahu. Itu yang ulun sesali. Harusnya dua jam lebih itu paling kada anak ulun MFA hilang, paling tidak orang tuanya telepon, tim SAR, lakukan secepat-cepatnya,” ucapnya.
Atikah juga mempertanyakan mengapa pertolongan terhadap anaknya tidak bisa dilakukan lebih cepat.
“Kenapa tidak anak saya diselamatkan secepatnya, tidak ditolongin?” katanya.
Menurut Atikah, sebagian informasi mengenai kejadian tersebut justru diperolehnya dari berita dan komunikasi dengan siswa lain.
Ia mendapat informasi bahwa sejumlah siswa sebelumnya diminta mencuci kaki di area kolam setelah mengikuti permainan basah-basahan.
“Tidak tahu saya tau, taunya dari berita-berita aja. Ulun chat sama anak-anak berataan, jarnya berataan murid disuruh cuci kaki di danau. Danau tuh yang becek, licin, di situ,” tuturnya.
Atikah bahkan mengaku telah melihat langsung lokasi tempat anaknya ditemukan. Ia menilai kondisi kolam tersebut cukup berisiko bagi anak-anak yang tidak terbiasa berenang.
“Tadi ulun sudah ke sana melihat, danau tuh 10 meter kedalamannya. Terus kondisinya semakin kita injak semakin ke dalam,” katanya.
Ia juga mempertanyakan keputusan membiarkan siswa beraktivitas di sekitar kolam tersebut, sementara menurutnya terdapat fasilitas toilet di lokasi.
“Jarnya, masa guru kada tahu membiarkan anak-anak murid cuci kaki di situ?” ujarnya.
Sempat Dilaporkan ke Guru
Atikah juga mendapat informasi dari teman MFA bahwa anaknya sempat terlihat berada di sekitar kolam.
Menurut informasi yang diterimanya, MFA sempat dikira hanya bercanda ketika berada di area tersebut. Namun, kondisi itu kemudian dilaporkan kepada guru.
“Terus anak yang lain ada yang sempat melihat MFA, jadi dikira dia begaya, dan tetap lapor ke guru. Jawaban gurunya itu, ‘Cetek aja.’ Jar cetek tuh tidak dalam,” ungkapnya.
Atikah menilai kondisi kolam tetap berbahaya meski disebut tidak dalam, terlebih MFA diketahui belum mahir berenang.
“Tetap ai biar kaya apa pun anak berenang tuh ditolongi. Sepatutnya tidak bisa, anak saya tuh belum bisa banar lagi berenangnya,” katanya.
Ia pun masih tidak menyangka anak yang diantarnya mengikuti kegiatan pada Sabtu pagi tersebut akhirnya meninggal dunia sehari kemudian.
“Tidak nyangka ulun Sabtu pagi nganterinya ke sana, Minggunya sudah tidak ada,” ucap Atikah.
Keluarga Pertanyakan Permainan dan Pengawasan
Selain kondisi kolam, Atikah juga mempertanyakan rangkaian permainan yang dilakukan para siswa sebelum kejadian.
Ia menyebut salah satu permainan mengharuskan peserta menjadi peserta yang paling kotor. Setelah permainan selesai, para siswa kemudian diarahkan untuk membersihkan diri.
“Jadi suruhannya, main paling kotor ja, pokoknya paling kotor yang menang. Masa anak kecil disuruh main kotor-kotor? Habis itu disuruh cucinya ke sana. Padahal ada WC di situ, kenapa kada di WC aja aman?” katanya.
Atikah juga mempertanyakan pengawasan selama kegiatan berlangsung.
“Tidak diawasi jua. Kabarnya pengawasnya itu pulang, kayak tidak banyak gurunya ada di sana, panitianya rata-rata kakak kelasnya aja,” ujarnya.
Meski demikian, Atikah mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana MFA bisa sampai berada di dalam kolam.
“Entah berenang atau entah tenggelam kan, banyak orangnya. Entah tesenggol kah, tidak tahu jua. Tiba-tiba kerosok di situ, dikira kawannya bercanda kah ini,” katanya.
Ia menyebut informasi yang diterima keluarga masih simpang siur. Karena itu, dirinya berharap penyelidikan dapat mengungkap secara jelas seluruh rangkaian kejadian.
“Soalnya simpang siur. Tidak benar-benar mengetahui saya pastinya kayak apa kejadiannya,” ujarnya.
Atikah memastikan keluarga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.
“Sudah ada melaporkan. Bapanya melaporkan, ada,” pungkasnya.
Keluarga RAF Juga Pertanyakan Pengawasan
Hal serupa disampaikan keluarga korban RAF (13).
Tante korban, Hilda (42), juga mempertanyakan pengawasan terhadap para siswa selama kegiatan, khususnya ketika mereka berada di sekitar kolam.
Menurut Hilda, berdasarkan informasi yang diterima keluarga, RAF saat itu berada bersama sejumlah siswa lain di sekitar kolam.
“Katanya dari temannya, ada berlima. Tiba-tiba yang bisa berenang itu diikutinya sebelah sini. Karena lamas (lemas) berat, jadi inya kada sanggup, langsung hendak naik kayak itu. Bepadah lawan pihak guru atau pembina,” tutur Hilda.
Namun, menurut informasi yang diterimanya, respons dari guru atau pembina saat itu justru menyebut lokasi tersebut tidak dalam.
“Respon guru atau pembina ini cuma, ‘Ah itu cetek aja, rendah aja tempat anunya tuh.’ Padahal kalau orang tua yang menginjak, itu lumpurnya menyusut, dan itu banyak pohon teratai jadi bisa melilit,” jelasnya.
Hilda menilai siswa yang masih berusia 13 tahun semestinya mendapatkan pengawasan lebih ketat ketika berada di sekitar area berair.
“Mereka anak di bawah umur, masih labil, masih mencari jati diri. Harus diawasi,” tegasnya.
Keluarga juga mempertanyakan kapan sebenarnya kedua korban diketahui tenggelam. Sebab, berdasarkan informasi yang diterima, keduanya sempat terlihat berada di sekitar kolam sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tenggelam.
Keluarga Minta Kejadian Tak Terulang
Sepupu RAF, Syaira (19), mengatakan keluarga masih berharap adanya kejelasan dan keadilan atas peristiwa tersebut.
Ia menuturkan, setelah ditemukan, korban sempat mendapat upaya pertolongan.
“Adek itu masih hidup, sudah dicoba. Sudah dibantu ayahnya. Sudah keluar air dari mulut, dari hidung, tapi memang sudah habis (meninggal dunia),” ujarnya.
Syaira menegaskan keluarga tidak ingin kejadian serupa kembali terjadi.
“Kami perlu keadilan, dan tidak terulang kembali,” katanya.
Keluarga kedua korban berharap kepolisian mengusut seluruh rangkaian peristiwa, termasuk pengawasan terhadap peserta, kondisi lokasi, hingga kronologi sebelum kedua siswa ditemukan di dalam kolam.
Mereka juga berharap hasil penyelidikan dapat memberikan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi sekaligus menjadi evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sekolah Sebut Kegiatan Sesuai SOP
Terpisah, pihak MTs Muhammadiyah Al-Furqan Banjarmasin menyampaikan bahwa pelaksanaan Kemah Akbar telah diupayakan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Wakil Direktur Kesantrian MTs Muhammadiyah Al-Furqan Banjarmasin, Roy Akhriannoor, mengatakan pihak panitia telah berusaha menjalankan kegiatan sebaik mungkin.
“Kami dari panitia ini berusaha sebaik mungkin di kegiatan itu sesuai dengan SOP melaksanakannya,” ujarnya saat dikonfirmasi di sekolah, Senin (7/9/2026).
Roy mengatakan peristiwa tersebut kini telah ditangani pihak berwajib. Pihak sekolah juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Jadi kami berharap ke depannya itu ada perbaikanlah dari kami,” katanya.
Pihak sekolah, lanjut Roy, juga berencana mendatangi keluarga kedua korban untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung.
“Kami kan lagi mau mendatangi keluarga korban ini, dan juga kami mengucapkan duka cita yang sebesar-besarnya kepada keluarga korban ini,” jelasnya.
Terkait kegiatan Kemah Akbar yang merupakan agenda tahunan, Roy membenarkannya. Ia memastikan pelaksanaan kegiatan akan menjadi bahan evaluasi sekolah.
“Tiap tahun. Ya, tentu akan dilakukan evaluasi,” pungkasnya.
















