BANJARMASIN – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Namun, kemajuan teknologi dinilai tetap harus diimbangi dengan kepemimpinan pembelajaran yang mampu menjaga nilai kemanusiaan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Conference on Instructional Leadership Based on AI for a Gold Generation yang digelar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Kamis (27/8/2026).
Konferensi yang berlangsung secara hybrid di Lecture Theater, General Building ULM tersebut mempertemukan akademisi, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, mahasiswa, presenter serta peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.
Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP ULM, Prof. Dr. Deasy Arisanty, S.Si., M.Sc., mengatakan pemanfaatan AI dalam pendidikan harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran manusia dalam memimpin proses pendidikan.
Menurutnya, kepemimpinan pembelajaran tetap menjadi unsur penting dalam membangun lingkungan akademik yang mampu mendorong peserta didik untuk berkembang secara menyeluruh.
“Kemajuan teknologi tidak dapat menggantikan peran kepemimpinan manusia dalam pendidikan,” ujar Deasy.
Ia menjelaskan, pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya akademik yang mendorong mahasiswa maupun peserta didik agar aktif belajar, berpikir kritis, kreatif, adaptif dan mampu bekerja sama.
Selain kemampuan akademik, nilai etika dan tanggung jawab juga dinilai perlu tetap menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi di lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, Ketua Pelaksana konferensi, Dr. Noorhapizah, ST., M.Pd., menilai forum internasional tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk melihat perkembangan pendidikan dari perspektif yang lebih luas.
Ia mengajak peserta tidak hanya membahas teknologi dari sisi manfaatnya, tetapi juga memikirkan bagaimana AI dapat digunakan secara bijaksana untuk mendukung masa depan pendidikan.
“Marilah kita menjadikan konferensi ini sebagai kesempatan untuk berpikir melampaui batas, berkolaborasi lintas disiplin ilmu dan lintas negara, serta bersama-sama membangun masa depan pendidikan,” katanya.
Noorhapizah menekankan bahwa perkembangan teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan pendidikan. Menurutnya, cara manusia memanfaatkan teknologi untuk kepentingan generasi mendatang juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
“Masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang kita miliki, tetapi juga oleh seberapa bijaksana kita menggunakan teknologi tersebut demi kebaikan generasi mendatang,” lanjutnya.
Konferensi tersebut merupakan hasil kolaborasi lima program studi di lingkungan FKIP ULM, yakni Program Doktor Administrasi Pendidikan, Magister Administrasi Pendidikan, Magister Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Sarjana Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD).
Untuk memperluas perspektif peserta, kegiatan menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Prof. Dr. Arsythambi Veloo dari Universiti Utara Malaysia dan Dr. Armand James Vallejo dari University of Mindanao Tagum College, Filipina.
Kehadiran narasumber dari luar negeri tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk membandingkan berbagai pendekatan dalam kepemimpinan pembelajaran dan pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan.
Selain pemaparan materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa, guru dan dosen memperoleh kesempatan untuk bertukar gagasan mengenai tantangan sekaligus peluang yang muncul akibat perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi lintas negara. Pertukaran pengalaman antara akademisi dan praktisi diharapkan dapat menghasilkan gagasan yang lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
Menurut FKIP ULM, kepemimpinan pembelajaran pada era perubahan yang cepat membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar pendidikan.
Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih inovatif dan efektif, sementara aspek kemanusiaan, etika dan keberlanjutan tetap menjadi landasan dalam setiap penerapannya.
Melalui konferensi internasional tersebut, ULM menegaskan komitmennya untuk mendorong lahirnya kepemimpinan pembelajaran yang inspiratif, inovatif, humanis dan adaptif.
Penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, guru dan berbagai pemangku kepentingan juga diharapkan mampu mempersiapkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
















