BANJARBARU – Puluhan ibu di Kota Banjarbaru mendapatkan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, gizi keluarga, serta pencegahan stunting melalui Kelas Ibu yang digelar Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK-Ormawa) HIMA Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (FKIK ULM) di Aula Kantor Kelurahan Cempaka, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Nor Mei Liza, S.Psi., M.Kes. dan Nurul Hikmah, S.Psi. Dengan mengangkat tema “Ibu Tangguh: Kesehatan Ibu dan Anak, Gizi Keluarga, dan Pencegahan Stunting”.
Adapun kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Family Empowerment Cempaka Cerdas 2026 sekaligus rangkaian Pojok Literasi Ibu yang menjadi salah satu dari empat program Pojok Literasi, yakni Pojok Literasi Ibu, Ayah, Remaja, dan UMKM.
Dalam sesi pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai stunting dan langkah-langkah pencegahannya. Materi mencakup pengertian stunting, ciri-ciri anak yang mengalami stunting, upaya pencegahan sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pentingnya menjaga kesehatan ibu sebagai fondasi kesehatan keluarga, hingga meluruskan berbagai mitos dan fakta seputar stunting.
Para peserta terlihat aktif mengikuti penyampaian materi. Selain menyimak penjelasan narasumber, sejumlah peserta juga membagikan pengalaman serta mengajukan pertanyaan mengenai kondisi tumbuh kembang anak.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Salah satu pertanyaan peserta berkaitan dengan kondisi anak yang menderita tuberkulosis (TBC) dan kemungkinan dampaknya terhadap tumbuh kembang.
Narasumber menjelaskan bahwa TBC dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak apabila tidak ditangani dengan baik. Namun, dampaknya dapat diminimalkan melalui pengobatan secara rutin dan tuntas, imunisasi sesuai jadwal, pemenuhan gizi seimbang, serta pemantauan kesehatan secara berkala.
Pertanyaan lainnya membahas perbedaan antara anak yang mengalami stunting dengan anak yang memiliki tubuh pendek karena faktor genetik.
Narasumber menjelaskan bahwa stunting tidak hanya dilihat dari kondisi tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya. Anak dengan stunting juga dapat mengalami hambatan pada sejumlah aspek perkembangan, termasuk kognitif dan kemampuan berbahasa.
Sementara itu, anak yang memiliki tubuh pendek karena faktor genetik pada umumnya tetap dapat mengalami perkembangan fisik dan kemampuan kognitif sesuai dengan tahapan usianya.
Setelah sesi diskusi, peserta mengikuti aktivitas menyusun menu gizi seimbang dengan anggaran maksimal Rp30 ribu. Peserta ditantang memilih bahan makanan dan menyusun menu yang tetap memenuhi prinsip gizi seimbang, meliputi sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
Peserta kemudian dibagi menjadi delapan kelompok yang masing-masing terdiri atas empat hingga enam orang. Dengan pendampingan fasilitator, setiap kelompok berdiskusi menentukan kombinasi menu yang bergizi sekaligus ekonomis.
Aktivitas tersebut berlangsung dengan antusias. Para peserta terlihat aktif bertukar pendapat dan bekerja sama dalam menyusun menu. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal, tetapi dapat disusun dengan memilih bahan pangan yang tepat sesuai kebutuhan keluarga dan kemampuan anggaran.
Menurut Nor Mei Liza, S.Psi., M.Kes., edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi keluarga, serta pencegahan stunting penting diberikan kepada para ibu karena mereka memiliki peran besar dalam memastikan kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga terpenuhi.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para ibu untuk mendapatkan informasi yang tepat sekaligus berdiskusi mengenai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan para ibu dapat menerapkan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang di lingkungan keluarga.
Ketua Tim Pelaksana PPK-Ormawa HIMA Psikologi FKIK ULM, Azkia Najla Rasyida mengatakan, kegiatan Kelas Ibu Sesi 2 mendapat antusiasme dari masyarakat. Hal tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.
“Alhamdulillah, kegiatan Kelas Ibu Sesi 2 ini berjalan dengan lancar dan mendapat antusiasme dari para peserta. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 46 peserta. Kami berharap melalui kegiatan ini para ibu semakin memahami pentingnya kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi keluarga, serta pencegahan stunting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menilai Kelas Ibu menjadi salah satu upaya tim dalam memberikan edukasi yang aplikatif kepada masyarakat, khususnya mengenai kesehatan ibu dan anak serta pencegahan stunting.
Menurutnya, kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta melalui diskusi dan praktik menyusun menu bergizi dengan anggaran yang terjangkau. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh peserta lebih mudah diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Setelah seluruh rangkaian aktivitas selesai, peserta mengisi post-test sebagai bentuk evaluasi untuk melihat pemahaman setelah mengikuti kegiatan.
Terakhir ia berharap, melalui kegiatan Kelas Ibu Sesi 2 ini dapat meningkatkan pemahaman para ibu mengenai kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi keluarga, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama untuk mencegah stunting. (Ilh)
















