JAKARTA – Tingginya keterlibatan kelompok usia muda dalam musibah lalu lintas mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil tindakan pencegahan yang lebih agresif.
Berdasarkan catatan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri sepanjang 2025, dari total 158.508 kasus kecelakaan jalan raya nasional, sekitar 39 persen di antaranya melibatkan kalangan pelajar dan mahasiswa.
Sorotan atas potret buram keselamatan jalan tersebut mengemuka dalam Diskusi Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) bertajuk “Keselamatan dan Transportasi Jalan Tanggung Jawab Bersama” di Kantor Kemenhub, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Direktur Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Sigit Widodo, menegaskan bahwa tingginya porsi keterlibatan usia produktif ini mendasari pemerintah untuk memperketat proteksi lalu lintas, terutama di kawasan sekitar lingkungan pendidikan.
“Pemerintah sebagai regulator bertanggung jawab menjamin keselamatan, tetapi perlu dukungan dan kolaborasi semua stakeholders,” kata Sigit.
Guna meredam risiko musibah pada anak sekolah, Kemenhub memacu program Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) serta perluasan Zona Selamat Sekolah (ZoSS). Hingga 2026, infrastruktur keselamatan khusus pelajar ini tercatat telah terpasang di 403 titik kawasan sekolah yang tersebar di berbagai daerah.
Selain menyasar penataan area sekolah, Kemenhub juga memperketat pengawasan terhadap angkutan penumpang dan angkutan barang. Pada moda angkutan penumpang, setiap armada diwajibkan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) serta menjalani rampcheck berkala di terminal maupun pool bus.
Sementara untuk angkutan barang, penindakan kini diperkuat melalui integrasi teknologi Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) HUB.
Terhitung sejak 10 Agustus hingga 27 Oktober 2026, kamera ETLE HUB telah mendeteksi 221.606 pergerakan kendaraan di 51 titik Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) dan ruas jalan tol.
Dukungan terhadap pembentukan ekosistem lalu lintas yang aman turut disampaikan PT Jasa Raharja. Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menyatakan bahwa peran BUMN asuransi transportasi tersebut kini bergeser, dari yang semula berfokus pada fase penanganan pascakecelakaan menjadi lebih proaktif pada fase pencegahan dini.
“Kami tidak ingin hanya hadir setelah kecelakaan terjadi melalui pemberian santunan. Jasa Raharja ingin berkontribusi lebih dalam membangun ekosistem keselamatan, terutama melalui upaya pencegahan,” ujar Awaluddin.
Awaluddin menambahkan bahwa kolaborasi erat antara kementerian, kepolisian, operator, hingga komunitas warga merupakan prasyarat mutlak agar budaya tertib berlalu lintas dapat tertanam secara berkelanjutan.
Sigit menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa pemenuhan standar teknis kendaraan dan fasilitas jalan tidak akan berdampak maksimal tanpa adanya perbaikan perilaku pengemudi di jalan raya.
“Keselamatan merupakan prioritas yang harus diterapkan dalam pelayanan transportasi. Untuk menjamin hal tersebut diperlukan kolaborasi semua pihak, karena keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama dalam ekosistem keselamatan transportasi darat,” tuturnya.
















