BANJAR – Perjalanan pulang dari kawasan wisata Murung Batu Laba berujung duka bagi Hairunisa (55), warga Desa Aranio, Kabupaten Banjar.
Perempuan tersebut meninggal dunia setelah terjatuh ke kolong truk pengangkut material di Jalan Ir. P.M. Noor, kawasan Telkom, Desa Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan, Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.
Kecelakaan maut itu melibatkan dua sepeda motor dan satu truk. Korban saat kejadian dibonceng anaknya, RA, menggunakan sepeda motor Yamaha Mio merah bernomor polisi DA 6191 AEI yang melaju menuju Banjarbaru.
Sementara dari arah yang sama, melintas sepeda motor Honda Scoopy putih krem bernomor polisi KH 2749 UH yang dikendarai Rezi Aghani (24), warga Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Rezi saat itu berboncengan dengan Bintang.
Di belakang atau pada jalur yang sama, terdapat truk DA 8165 BD yang dikemudikan Zainuddin (62), warga Indrasari, Bincau. Truk tersebut diketahui membawa muatan penuh material abu batu menuju Kandangan.
Sebelum kejadian, Rezi bersama empat rekannya baru saja menyelesaikan perjalanan wisata di kawasan Murung Batu Laba, Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio. Rombongan kemudian bergerak pulang menuju Kuala Kapuas.
Memasuki kawasan Mandiangin Timur, situasi lalu lintas disebut cukup padat. Sejumlah kendaraan berada dalam kondisi saling mendahului. Rezi yang berada di depan sepeda motor RA kemudian mengurangi kecepatan setelah melihat sebuah mobil di depannya.
“Ada mobil. Kemudian setelah itu saya mengerem, hendak menghindar,” ujar Rezi.
Saat melakukan pengereman, sepeda motor yang dikendarainya kemudian tersenggol dari arah belakang. Rezi mengatakan senggolan tersebut membuatnya terkejut, tetapi sepeda motornya tidak sampai terjatuh.
“Saya mengerem, ada orang di belakang. Tersenggol dulu,” katanya.
Karena masih dapat mengendalikan kendaraan, Rezi memilih menepi. Dari sisi jalan, ia kemudian melihat sepeda motor yang dikendarai RA sudah terjatuh.
“Karena posisi saya di depan. Jadi kaget, langsung saya menepi,” jelasnya.
Bintang yang berada di belakang Rezi juga mengaku merasakan adanya senggolan sebelum kecelakaan terjadi.
“Tadi saya yang kena senggol,” ujarnya.
Menurut Rezi, setelah terjadi senggolan, RA dan Hairunisa terjatuh ke sisi kiri jalan. Posisi Hairunisa disebut berada lebih tinggi dibandingkan anaknya ketika keduanya kehilangan keseimbangan.
Dalam kondisi tersebut, keduanya kemudian terjatuh ke arah kolong truk yang sedang melintas. Sepeda motor Yamaha Mio yang digunakan korban masih berada di luar kolong dan hanya mengalami kerusakan ringan.
Dari dalam kabin truk, Zainuddin mengaku melihat situasi kendaraan di depannya. Ia mengatakan sebelum kejadian terdapat dua truk yang melintas, kemudian sebuah mobil Grand Max berada di sekitar lokasi.
“Saya arahnya ke bawah, posisi menurun. Waktu itu ada dua truk. Begitu dua truk lewat, ada Grand Max,” ujar Zainuddin.
Ia menjelaskan, terdapat kendaraan yang bergerak di sisi mobil tersebut. Menurut keterangannya, setang kendaraan kemudian mengenai bagian mobil dan bergeser ke arah kiri.
“Pas di pinggirnya, setang kendaraan kena Grand Max, kemudian tergeser ke sebelah sana, kiri,” katanya.
Tidak lama setelah itu, Zainuddin melihat korban bergerak ke arah kolong truk. Ia berusaha melakukan pengereman, namun laju kendaraan tidak dapat berhenti seketika karena membawa muatan penuh.
“Saya mengerem, tetapi tidak bisa langsung berhenti karena muatannya penuh,” ungkapnya.
Akibat kecelakaan tersebut, Hairunisa berada di bawah roda truk dan terlindas. Korban kemudian diduga terseret hingga sekitar 50 meter dari lokasi awal kejadian dan meninggal dunia di tempat.
Sementara RA hanya mengalami luka lecet. Rezi dan Bintang dilaporkan selamat dari kejadian tersebut.
Proses evakuasi korban berlangsung cukup sulit karena posisi jenazah berada di bawah ban truk. Petugas bersama relawan dan masyarakat harus melakukan penanganan khusus untuk mengeluarkan korban.
Truk terlebih dahulu didongkrak agar posisi kendaraan dapat diangkat. Setelah itu, ban dilepas sehingga petugas bisa mengevakuasi jenazah Hairunisa.
Proses evakuasi yang berlangsung sekitar satu jam tersebut turut melibatkan aparat kepolisian, DPKP Kabupaten Banjar, relawan Rakat, masyarakat serta pengguna jalan yang berada di sekitar lokasi.
Kecelakaan tersebut juga menyebabkan arus lalu lintas terganggu. Kemacetan bahkan dilaporkan mengular hingga sekitar tiga kilometer selama proses evakuasi berlangsung.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Hairunisa dibawa ke Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura untuk proses pembersihan sebelum kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kecelakaan tersebut. Petugas melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang berada di lokasi.
Kapolres Banjar AKBP Dr. Fadli, S.H., S.I.K., M.Si. mengatakan proses penanganan masih berlangsung. Saat dikonfirmasi mengenai perkembangan kasus tersebut, ia memberikan keterangan singkat.
“Masih proses olah TKP,” jawab Fadli melalui pesan WhatsApp.
Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian masih mendalami kronologi serta faktor yang menyebabkan kecelakaan maut tersebut terjadi.















