BANJARMASIN – Antusiasme masyarakat Kalimantan Selatan menyambut film horor lokal Pirunduk terlihat pada hari pertama penayangannya, Kamis (22/10/26).
Tiket film yang mengangkat kisah mistis dan urban legend masyarakat Banjar habis terjual di sejumlah jaringan bioskop di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Di bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin, dua studio menayangkan film Pirunduk.
Dari total 10 jadwal pemutaran pada hari pertama, kursi penonton terisi penuh hingga pertunjukan terakhir pukul 21.00 Wita.
Antusiasme serupa juga terjadi di jaringan Cinepolis, baik di The Galeria Mall Banjarmasin maupun Q Mall Banjarbaru. Tiket untuk seluruh studio yang menayangkan film tersebut, hingga habis terjual.
Selain itu, penayangan di KCM Belitung Darat Banjarmasin, tiket untuk penayangan perdana bahkan telah ludes sejak beberapa hari sebelumnya.
Film Pirunduk disutradarai Billy Christian dan mengangkat kisah mistis lokal Kalimantan Selatan.
Selain menghadirkan teror dan ketegangan, film ini juga membawa konflik rumah tangga, pengkhianatan, serta penderitaan perempuan ke layar lebar.
Film produksi kolaborasi Pickhouse Film, MD Entertainment, Pentana Studio, dan Bimasakti Pictures ini dibintangi sejumlah aktor, di antaranya Aulia Sarah, Bucek Depp, Yoriko Angeline, dan Alam Jaya.
Film tersebut juga melibatkan sejumlah seniman lokal, seperti Acil Imas, Acil Ifit, Bayu Bestari, Boy Idrus, Ipul Hari, Guru Ibir, Paman Martabak, Muhammad Khalilul Rahman, Ayu Putri, dan Rama Juple.
Produser Pirunduk, Budi Ismanto menyampaikan terima kasih atas sambutan masyarakat Kalimantan Selatan dan sejumlah wilayah Kalimantan lainnya terhadap penayangan perdana film tersebut.
“Sebagai produser, saya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan luar biasa warga Kalimantan Selatan dan Kalimantan umumnya atas penayangan perdana film Pirunduk. Saya berharap film ini bisa menghibur dan disukai para pencinta film Indonesia,” kata Budi Ismanto.
Ia menjelaskan, film Pirunduk tetap akan tayang setelah 22 Oktober 2026. Masyarakat yang belum mendapatkan tiket pada hari pertama masih berkesempatan menontonnya pada jadwal berikutnya.
“Jadi jika hari ini belum kebagian tiket, warga masih bisa membelinya di hari berikutnya dan menonton film Pirunduk,” tambahnya.
Angkat Kisah Mistis dan Konflik Rumah Tangga
Selain mendapat sambutan dari penonton, Pirunduk juga menuai beragam tanggapan terkait cerita dan visual yang menampilkan nuansa khas Kalimantan.
Sejumlah penonton menilai film ini memberikan pengalaman berbeda karena mengangkat kisah mistis yang dekat dengan cerita turun-temurun masyarakat setempat.
Salah satunya Atha, warga Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin. Ia menilai film tersebut berhasil menghadirkan suasana teror dan ketegangan melalui kisah yang sudah dikenal sebagian masyarakat Kalimantan.
“Itukan cerita mistik zaman dulu dan kisah nyata juga,” ujarnya.
Tak hanya mengandalkan unsur horor, film ini turut menghadirkan kisah pilu Siti, karakter yang diperankan Aulia Sarah. Siti diceritakan rela menikah dengan Badarudin, yang diperankan Bucek Depp, demi melunasi utang ayahnya. Namun, pengorbanan tersebut justru membawanya pada kehidupan rumah tangga yang penuh penderitaan.
Salah seorang penonton, Hj. Miah, mengaku prihatin terhadap nasib Siti yang harus menghadapi perlakuan buruk dari suaminya.
“Badar itu orangnya harat,” ucapnya.
Penonton lainnya, Rosita dan Wiwi, menilai Pirunduk tidak hanya menyajikan kisah mistis, tetapi juga menggambarkan persoalan pengkhianatan dan konflik dalam rumah tangga.
Wiwi menilai Siti menjadi korban dari perilaku Badar yang dianggap tidak setia kepada istrinya.
“Siti itu korban sakit hati sebenarnya, kalau Badar itu lakian kurang ajar, tidak cukup bini satu,” tuturnya.
Beragam tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa Pirunduk tidak hanya membawa cerita horor berlatar budaya lokal, tetapi juga menyentuh persoalan kehidupan rumah tangga, pengkhianatan, dan penderitaan perempuan.
Dengan mengangkat kisah yang berakar pada cerita masyarakat Banjar, film ini turut memperkenalkan kekayaan cerita lokal Kalimantan Selatan kepada penonton melalui layar lebar. (Ilh)
Editor: Nanang














