BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan membekali guru dan pegiat literasi dengan kemampuan menyaring informasi di era digital melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang digelar di Aula Kantor Dispersip Kalsel, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sebanyak 100 peserta perwakilan kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan itu dibuka langsung oleh Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni.
Dalam sambutannya, Sri menegaskan bahwa penguatan literasi informasi menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi digital yang berkembang pesat. Menurutnya, kemudahan mengakses informasi juga diiringi dengan meningkatnya penyebaran hoaks, disinformasi, dan berbagai konten yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Literasi informasi bukan sekadar kemampuan membaca. Literasi informasi adalah kemampuan untuk mencari, memilih, mengevaluasi secara kritis, serta menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab. Keterampilan ini sangat penting agar masyarakat mampu menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi membangun masyarakat yang melek informasi,” ujarnya.
Sri menilai guru dan pegiat literasi memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi di Kalimantan Selatan. Guru, kata dia, merupakan ujung tombak pendidikan yang berhadapan langsung dengan generasi Z dan Alpha sehingga memiliki tanggung jawab menanamkan budaya berpikir kritis kepada peserta didik agar tidak mudah mempercayai informasi tanpa proses verifikasi.
Sementara itu, pegiat literasi berperan membangun ruang-ruang pembelajaran melalui komunitas literasi, taman baca, dan berbagai kegiatan edukatif di tengah masyarakat.
“Komunitas literasi, taman baca, dan ruang-ruang kreatif yang dikelola para pegiat literasi harus menjadi oase informasi yang sehat, inklusif, dan mengedukasi masyarakat. Melalui sinergi antara guru dan pegiat literasi, kita dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berkelanjutan di Kalimantan Selatan,” katanya.
Bimtek yang didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut diharapkan menjadi wadah peningkatan kapasitas sekaligus ruang berbagi pengalaman antar-peserta. Sri juga mendorong peserta memanfaatkan kegiatan untuk memperdalam pengetahuan, berdiskusi mengenai metode literasi yang inovatif, serta menerapkan ilmu yang diperoleh di sekolah maupun komunitas masing-masing.
“Kami ingin melalui bimtek ini para guru dan pegiat literasi dapat bersinergi dan memperkuat barisan dalam meningkatkan literasi masyarakat, khususnya kemampuan menyaring informasi yang tidak kredibel dan disinformasi, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh peserta mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing dengan membangun jejaring kolaborasi serta membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Dispersip Kalsel menargetkan peningkatan kualitas literasi informasi masyarakat sekaligus mendorong kenaikan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kalimantan Selatan guna mewujudkan Banua yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter.
Hadir sebagai narasumber pada kegiatan ini Dosen Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Muhammad Prabu Wibowo, serta CEO dan Pendiri Yayasan Vidya Prana Indonesia, Hanna Chaterina George. (Adv/Ilh)
















