BANJARBARU — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat kemampuan menjalankan pekerjaan rutin saja tidak lagi cukup bagi sumber daya manusia di lingkungan kerja.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Pembinaan (Rakorbin) SDM dan Pembinaan PNS Polri Polda Kalimantan Selatan di Auditorium Polda Kalsel, Kamis (17/9/2026).
Dalam forum yang mengusung tema “Transformasi SDM Polri yang Unggul, Adaptif dan Inovatif di Era Artificial Intelligence Menuju Polri Presisi” itu, Rektor ULM membahas tantangan pengembangan SDM di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI dalam lingkungan kerja.
Menurutnya, kehadiran AI akan mengubah pola kerja sekaligus kompetensi yang dibutuhkan aparatur. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan manusia agar AI tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan pekerjaan.
“Jika AI dapat melakukan pekerjaan administratif kita dalam hitungan detik, apa nilai tambah yang masih harus dimiliki seorang aparatur?” ujar Rektor dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan organisasi dalam mempersiapkan SDM menghadapi transformasi teknologi. Kemampuan manusia harus memiliki nilai tambah yang tidak mudah digantikan oleh pekerjaan rutin berbasis teknologi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rektor memperkenalkan konsep 5C+AI sebagai kompetensi yang perlu diperkuat. Konsep itu mencakup critical thinking, creativity, communication, collaboration, character, serta AI literacy.
Kelima kemampuan tersebut dinilai tetap penting meski teknologi AI semakin berkembang. Rektor menilai penguasaan AI tanpa kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi dan memiliki karakter dapat membuat pemanfaatan teknologi tidak berjalan secara optimal.
Pemaparan tersebut disampaikan dalam Rakorbin SDM dan Pembinaan PNS Polri Polda Kalsel yang secara khusus membahas kesiapan SDM menghadapi transformasi AI.
Bagi organisasi, transformasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengadaan atau penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana menyiapkan manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola kerja.
Rektor ULM menegaskan, perpaduan antara kompetensi manusia dan literasi AI menjadi modal penting agar teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas kerja, kualitas pelayanan dan kinerja organisasi.
Dengan demikian, transformasi AI dipandang bukan semata sebagai perubahan teknologi, melainkan juga momentum untuk membangun SDM yang lebih adaptif, inovatif, kritis dan tetap memiliki karakter.
















