BANJARBARU – Kegagalan di kompetisi sebelumnya tidak membuat dua mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhenti mencoba.
Justru dari kritik dan evaluasi yang diterima, Inatsa Dwi Tatsbita dan Aisyiyah Nurul Hidayat mampu memperbaiki karya hingga akhirnya meraih Juara 1 (1st Winner) pada ajang internasional The International NursFest 6.0.
Kompetisi yang diselenggarakan Bhakti Wijaya Institute of Health Sciences tersebut mengangkat tema “Innovative Ideas in Chronic Disease Management for a Better Global Health”.
Ajang ini mempertemukan peserta dari berbagai daerah, negara, dan latar belakang melalui kompetisi poster ilmiah yang dilaksanakan secara daring.
Prestasi tersebut diraih melalui karya berjudul “ChroniCare: An AI-Integrated Telepharmacy Platform to Chronic Disease Management”. Gagasan yang diusung menawarkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam layanan telepharmacy untuk mendukung pengelolaan penyakit kronis.
Melalui konsep tersebut, pengguna dapat memperoleh sejumlah kemudahan, mulai dari pemantauan kondisi kesehatan, pengingat penggunaan obat, hingga konsultasi secara daring.
Inovasi ini dirancang sebagai salah satu alternatif pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pengelolaan penyakit kronis yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagi Inatsa dan Aisyiyah, keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Sebelum mengikuti kompetisi internasional, keduanya terlebih dahulu mengikuti kompetisi di tingkat nasional.
Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara, karya mereka mendapatkan kritik dan masukan dari dewan juri yang kemudian menjadi bahan evaluasi.
“Pengalaman dari kompetisi sebelumnya menjadi motivasi kami untuk terus melakukan perbaikan dan mencoba tantangan di tingkat yang lebih luas,” ungkap Inatsa.
Tantangan lain muncul ketika keduanya harus membagi waktu antara persiapan lomba dan kewajiban akademik. Persiapan kompetisi dilakukan di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, termasuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Akhir Praktikum (UAP), serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
“Membagi waktu antara persiapan lomba dan aktivitas akademik yang cukup padat, termasuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Akhir Praktikum (UAP), serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE),” tambahnya.
Rangkaian kompetisi sendiri berlangsung sejak registrasi dan pengumpulan karya pada Mei hingga Juni 2026. Setelah melalui proses penilaian dewan juri, hasil kompetisi diumumkan pada 4 Juli 2026 dengan menempatkan tim Farmasi ULM sebagai first winner.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keduanya, terlebih karya mereka harus bersaing dengan peserta dari berbagai daerah, negara, dan latar belakang.
“Pencapaian ini membuat kami sangat senang, bangga, dan bersyukur. Terlebih, hasil ini merupakan buah dari proses panjang yang penuh tantangan dan evaluasi dari pengalaman sebelumnya,” tuturnya.
Keberhasilan Inatsa dan Aisyiyah sekaligus menunjukkan bahwa proses evaluasi dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan meraih prestasi. Kritik yang diterima pada kompetisi sebelumnya justru dimanfaatkan untuk memperbaiki gagasan hingga mampu bersaing di level internasional.
Keduanya berharap pencapaian tersebut dapat mendorong lebih banyak mahasiswa ULM untuk berani mengikuti kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mereka juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan minimnya pengalaman sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
“Jadikan setiap kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk berkembang menjadi lebih baik. Persiapkan diri dengan matang, manfaatkan kritik yang membangun, dan tetap konsisten dalam berproses. Kesempatan untuk meraih prestasi akan selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak mudah menyerah,” tukasnya.
















