BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya daerah melalui penyelamatan naskah kuno.
Langkah tersebut diwujudkan dengan menggelar Sosialisasi Penyelamatan Naskah Kuno dengan mengusung tema “Merawat Memori Banua: Sinergi Penyelamatan Warisan Literasi, Membuka Tabir Sejarah, Mengabadi di IKON” yang digelar di Aula Dispersip Kalsel, Senin (14/7/2026).
Kegiatan itu menjadi momentum untuk mempercepat pendataan, pelestarian, hingga digitalisasi naskah kuno sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Kalimantan Selatan.
Sosialisasi dibuka langsung oleh Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni, dan dihadiri kepala SKPD lingkup Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan beserta delegasi dari 13 kabupaten/kota, tokoh masyarakat, komunitas adat Banua, akademisi, budayawan, alim ulama, pengelola museum, pustakawan, hingga para pemilik naskah kuno.
Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni mengatakan naskah kuno memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar dokumen berusia tua. Menurutnya, setiap lembar naskah menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan identitas masyarakat Banua yang harus dijaga bersama.
“Naskah kuno bukan sekadar tumpukan kertas usang. Lembaran-lembaran tersebut merupakan jangkar peradaban dan identitas kolektif kita di Kalimantan Selatan. Di dalamnya tersimpan khazanah keagamaan, pengobatan tradisional, hukum adat hingga falsafah hidup para datu terdahulu,” ujarnya.
Sri Mawarni menegaskan, penyelamatan naskah kuno tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas adat, lembaga budaya, hingga masyarakat yang masih menyimpan naskah warisan keluarga agar kekayaan intelektual tersebut tetap lestari.
Menurutnya, kolaborasi dalam penelitian, preservasi, konservasi, dan alih media menjadi langkah penting untuk memastikan naskah kuno tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.
Ia juga mengapresiasi para pemilik naskah kuno yang telah bersedia membawa koleksi mereka untuk didata dan didokumentasikan.
“Kami akan mendampingi hingga naskah-naskah tersebut dapat teregistrasi. Kepemilikan naskah tetap berada di tangan pemilik, sementara pemerintah membantu proses pendataan, pelestarian, dan digitalisasi,” katanya.
Sri Mawarni mengungkapkan, hingga saat ini masih banyak naskah kuno di Kalimantan Selatan yang belum tercatat dalam sistem Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Karena itu, sosialisasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal mempercepat inventarisasi sehingga seluruh naskah dapat terdokumentasi secara nasional.
Target akhirnya, kata dia, adalah mendaftarkan naskah-naskah kuno asal Kalimantan Selatan ke dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) melalui platform Khastara milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
“Dengan demikian, naskah kuno Kalimantan Selatan tidak hanya terlindungi dari ancaman kerusakan dan kepunahan, tetapi juga mendapat pengakuan sebagai bagian dari warisan sejarah bangsa Indonesia,” jelasnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat yang masih menyimpan naskah kuno untuk berpartisipasi dalam program penyelamatan tersebut.
“Kami mengetuk hati seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung penyelamatan naskah kuno. Melalui digitalisasi, warisan literasi Banua akan tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan pemaparan dari sejumlah narasumber nasional, yakni Tuty Hendrawati dan Leni Sudiarti dari Pusat Preservasi dan Alih Media Bahan Perpustakaan Perpustakaan Nasional RI, Haniatur Rosyidah dari Pusat Jasa Informasi dan Terapan Perpustakaan Nasional RI, serta H. Dede Hidayatullah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Mereka membahas berbagai strategi preservasi, registrasi, digitalisasi, hingga pentingnya perlindungan naskah kuno sebagai memori kolektif bangsa, sehingga warisan literasi daerah dapat terus terjaga sekaligus dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia maupun dunia. (Adv/Ilh)
















