BANJARBARU – Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Bandara Syamsudin Noor diperkuat pada malam hari. Satpol PP dan Damkar Provinsi Kalimantan Selatan bersama unsur keamanan lainnya melakukan patroli hingga kawasan Guntung Damar dan Sambang Lihum.
Kepala Satpol PP dan Damkar Kalsel, Dany Matera Saputra, melalui Kepala Seksi Operasional dan Pengendalian, Wahyu Setyo Utomo, mengatakan patroli malam menjadi bagian dari penyesuaian pola pengamanan di tengah status siaga karhutla.
“Satpol PP tidak hanya melakukan pemadaman dan pembasahan, tetapi juga ada tugas tambahan patroli dari pukul 21.00 sampai 24.00 WITA bersama Brimob, mulai dari kawasan Guntung Damar sampai Sambang Lihum, termasuk kawasan ring 1,” terang Wahyu, Jumat (2/10/2026).
Patroli tersebut dilakukan untuk mengawasi kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi penanganan karhutla sekaligus mengantisipasi munculnya kembali titik api. Pengawasan juga diarahkan pada sejumlah kawasan yang dinilai membutuhkan perhatian lebih.
Selain patroli malam, personel tetap disiagakan pada pagi hari. Setelah dilakukan penyesuaian pola penempatan personel sejak 9 September, sekitar 50 personel disiapkan pada pagi hari, sedangkan 20 hingga 25 personel menjalankan patroli pada malam hari.
“Pasukan standby setelah 9 September kita lakukan penyesuaian. Untuk pagi sekitar 50 orang, sedangkan malam kita melaksanakan patroli sekitar 20 sampai 25 orang,” kata Wahyu.
Sejumlah titik yang menjadi perhatian berada di jalur akses Bandara Lama, termasuk kawasan Masjid Kapal, Pengayuan hingga Guntung Damar. Personel juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan suplai air apabila diperlukan di wilayah terdampak.
“Untuk wilayah jalur akses Bandara Lama, termasuk yang ada Masjid Kapal, kemudian backup Pengayuan untuk water suplai. Kita menyesuaikan kekuatan personel dan unit yang ada di lapangan,” ujarnya.
Dari sisi peralatan, Satpol PP dan Damkar Kalsel saat ini memiliki 73 unit dompeng dan alkon yang menjadi bagian dari dukungan penanganan karhutla. Sebanyak 60 unit masih digunakan di lapangan, sedangkan peralatan lainnya ditarik untuk mendukung kebutuhan di lokasi berbeda.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar kekuatan personel dan peralatan dapat mengikuti perkembangan kondisi karhutla di sejumlah wilayah. Dengan pola tersebut, dukungan tidak hanya difokuskan pada pemadaman, tetapi juga pencegahan melalui patroli dan pemantauan.
Pengawasan personel di lapangan juga diperkuat melalui pengabsenan di setiap posko. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan anggota yang ditugaskan berada di lokasi dan tetap siap ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Pengabsenan dilakukan di setiap posko. Jadi kita memastikan personel yang ditugaskan memang berada di posko masing-masing dan siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelas Wahyu.
Kesiapsiagaan masih dipertahankan karena status siaga karhutla yang diberlakukan BPBD Kalsel berlangsung hingga 31 Oktober. Satpol PP dan Damkar pun tetap menyesuaikan kekuatan personel serta peralatan dengan kondisi di lapangan.
“Kita tetap bertahan dalam kondisi siaga sementara ini, karena status siaga karhutla BPBD sampai 31 Oktober. Jadi personel dan peralatan tetap kita sesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan di lapangan,” pungkasnya.















