BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Seminar Literasi 2026 yang digelar Perpustakaan Literasi Banua bersama PLN Peduli dan PLN Nusantara Power UP Kalselteng.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen Dispersip Kalsel dalam mendorong berbagai kegiatan yang dapat memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat, khususnya di Kota Banjarmasin.
Seminar Literasi 2026 mengangkat tema “Raising Readers, Empowering Leaders: Advancing Literacy Culture in Banjarmasin through Family and Youth Collaboration.”
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut, Seminar Literasi 2026 dijadwalkan berlangsung di Aula Perpustakaan Palnam Dispersip Kalsel, pada Sabtu (26/9/26), yang di mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan bertukar gagasan mengenai pentingnya membangun kebiasaan membaca, sekaligus memperkuat peran keluarga dan generasi muda dalam menciptakan lingkungan yang mendukung budaya literasi.
Seminar menghadirkan Psychology and Education Mentor sekaligus Awardee LPDP University of Toronto, Rezka Mardhiyana, S.Psi., M.Ed., dengan moderator Founder Komunitas Literasi Banua sekaligus Founder Positif Space & Eatery, Rima Anjanti, S.Psi.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak melihat pentingnya membangun kebiasaan membaca sejak lingkungan keluarga. Literasi juga diharapkan dapat menjadi bagian dari proses membentuk generasi pembelajar serta mempersiapkan calon pemimpin masa depan.
“Mari bersama-sama membangun kebiasaan membaca, menumbuhkan generasi pembelajar, dan mencetak pemimpin masa depan melalui literasi,” tulis akun resmi Perpuspalnam, Senin (7/9/26).
Seminar ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara keluarga, generasi muda, komunitas dan berbagai pihak dalam memperkuat ekosistem literasi di Banjarmasin.
Peserta yang mengikuti kegiatan mendapatkan sejumlah fasilitas, di antaranya goodie bag, handbook, snack box, lunch box, merchandise dan e-certificate.
Dukungan Dispersip Kalsel terhadap kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan keterbukaan perpustakaan sebagai ruang publik untuk kegiatan edukasi, diskusi dan pengembangan budaya literasi masyarakat. (Adv/Ilh)
















