BANJARMASIN – Pola kaderisasi di lingkungan organisasi mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) didorong untuk meninggalkan pendekatan yang mengandalkan tekanan dan senioritas. Proses pembinaan mahasiswa dinilai lebih penting diarahkan pada keteladanan, komunikasi, serta pendampingan.
Pesan tersebut mengemuka dalam pelatihan bertema “Dari Senioritas ke Solidaritas: Pelatihan Pencegahan Kekerasan dalam Organisasi Mahasiswa” yang digelar Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) ULM bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ULM di SAC 4 General Building ULM, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ir. Ahmad Syafii, S.T., M.T., IPP dan Prof. Dr. Ali Rachman, S.Pd., M.Pd. sebagai pembicara. Peserta merupakan mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan ULM.
Kepala UPA BK ULM, Dr. Ririanti Rachmayani Jamain, S.Pd., M.Pd., mengatakan organisasi mahasiswa seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar mengenai kepemimpinan dan membangun relasi yang sehat.
“UPA BK memberikan layanan pendampingan konseling dan mediasi kepada sivitas akademika, termasuk melalui kegiatan pelatihan. Sasaran pada kegiatan kali ini adalah mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Ririanti, proses pembentukan karakter dan kepemimpinan dalam organisasi tidak harus dilakukan melalui pola senioritas yang berpotensi melahirkan tindakan perpeloncoan maupun kekerasan.
Sebaliknya, mahasiswa dapat membangun budaya organisasi melalui komunikasi terbuka, rasa saling menghargai, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara konstruktif.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengajak mahasiswa mengevaluasi kembali pola interaksi yang selama ini berkembang dalam organisasi. Senior diharapkan dapat berperan sebagai pembimbing bagi anggota baru, bukan menggunakan posisi atau pengalaman untuk memberikan tekanan.
Dengan pola tersebut, proses kaderisasi diharapkan tetap mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki jiwa kepemimpinan tanpa harus mengorbankan rasa aman dan kenyamanan anggota organisasi.
UPA BK ULM juga menempatkan pencegahan kekerasan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat. Layanan bimbingan, konseling, dan mediasi tidak hanya diberikan ketika persoalan muncul, tetapi juga dapat diperkuat melalui edukasi dan pelatihan pencegahan.
Ririanti berharap mahasiswa dapat menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan tersebut dalam aktivitas organisasi masing-masing.
“Semoga tidak ada perpeloncoan dan kekerasan di ULM, khususnya dalam kepengurusan organisasi mahasiswa,” harapnya.
Kolaborasi UPA BK dan BEM ULM ini diharapkan menjadi langkah untuk membangun budaya organisasi yang lebih humanis. Organisasi mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan program dan prestasi, tetapi juga mampu menjadi ruang yang aman untuk belajar, berproses, dan mengembangkan potensi.
Dengan meninggalkan pola senioritas yang berpotensi mengarah pada kekerasan, kaderisasi mahasiswa diharapkan dapat berkembang menjadi proses pembelajaran yang menumbuhkan kepemimpinan sekaligus memperkuat solidaritas antarmahasiswa.















