BANJARMASIN – Semangat pantang menyerah menjadi modal yang ingin dibawa keluarga besar PS Barito Putera dalam menghadapi kompetisi Liga 2 Championship musim ini.
Nilai tersebut kembali ditegaskan melalui tradisi ziarah ke sejumlah makam tokoh dan ulama Banua yang dilakukan manajemen, pemain, serta jajaran tim Laskar Antasari, Minggu sore (13/9/2026).
Salah satu lokasi yang didatangi adalah makam Pangeran Antasari. Sosok pahlawan Perang Banjar itu menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Banua sekaligus sumber inspirasi bagi Barito Putera untuk menghadapi persaingan kompetisi.
Owner PS Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, mengatakan ziarah menjadi bagian dari tradisi keluarga besar Barito Putera untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus mengambil nilai perjuangan yang dapat diterapkan dalam kehidupan dan perjalanan tim.
“Barito Putera di sini memakai ‘Waja Sampai Kaputing’. Kita tahu, ini juga dikobarkan oleh Pangeran Antasari, pahlawan perang Banjar,” ujar Hasnuryadi.
Menurutnya, semangat tersebut tidak hanya menjadi semboyan, tetapi harus diwujudkan dalam perjuangan tim sepanjang kompetisi. Setiap pemain diharapkan memiliki tekad untuk terus bekerja keras hingga target yang ditetapkan dapat tercapai.
Ziarah dilakukan dengan membagi rombongan menjadi dua kelompok agar dapat mendatangi sejumlah lokasi yang telah dijadwalkan. Selain makam Pangeran Antasari, rombongan mengunjungi makam Sultan Suriansyah, Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau Habib Basirih, serta Guru KH M. Zuhdianoor.
Rombongan juga berziarah ke makam kakek dan nenek Hasnuryadi, yakni H Basirun bin H Muhammad Nor dan Hajah Halimatus Sadiyah binti H Hamid.
“Ini tadi ada dua kelompok kita bagi. Ada yang ke Sultan Suriansyah, kemudian juga tadi ada tempat-tempatnya guru kita tercinta Guru Zuhdi, kemudian juga sekarang di Pangeran Antasari dan sebagainya,” lanjutnya.
Hasnuryadi menyebut setiap makam yang didatangi memiliki nilai sejarah dan kedekatan dengan perjalanan Banua. Karena itu, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai agenda menjelang kompetisi, tetapi juga sebagai momentum untuk mendoakan para pendahulu dan mengingat kembali keteladanan mereka.
Doa juga dipanjatkan agar para tokoh yang telah berpulang mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Sementara bagi mereka yang masih diberi kesempatan hidup, nilai perjuangan dan kebaikan para pendahulu diharapkan dapat diteruskan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi sesama.
“Yang masih diberi kehidupan, mudah-mudahan bisa menjadi masyarakat atau umat Rasulullah yang bermanfaat,” katanya.
Semangat itu kemudian diarahkan pada ambisi Barito Putera untuk kembali bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Manajemen menilai target tersebut membutuhkan kerja keras, kedisiplinan, kekompakan dan mental yang kuat dari seluruh elemen tim.
Hasnuryadi pun meminta semangat perjuangan Pangeran Antasari menjadi motivasi bagi pemain Laskar Antasari sepanjang kompetisi. Menurutnya, perjuangan tidak boleh berhenti ketika menghadapi tekanan atau tantangan di lapangan.
“Mudah-mudahan kami juga bisa memakai itu untuk memberi semangat, memberi motivasi untuk kita semua untuk berjuang sampai apa yang kita cita-citakan tercapai,” tuturnya.
Dengan semangat tersebut, Barito Putera ingin menjadikan perjalanan Liga 2 musim ini sebagai momentum untuk kembali membangun prestasi. Target kembali ke kasta tertinggi menjadi tujuan yang harus diperjuangkan bersama hingga akhir kompetisi.
“Barito Putera ingin memberikan kebanggaan kepada masyarakat Banua, orang Banjar, dengan berprestasi dan kedisiplinan dengan semangat Waja Sampai Kaputing,” tukasnya.
Ziarah tersebut pun menjadi bagian dari ikhtiar keluarga besar Laskar Antasari sebelum memulai perjuangan panjang di kompetisi, dengan membawa nilai sejarah dan semangat perjuangan Banua ke dalam persaingan di lapangan. (DA)\
Editor: Nanang
















