BANJARBARU – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong penguatan budaya literasi di Banua. Salah satunya melalui Workshop Perhitungan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM) yang digelar di Aula Perpustkaan Palnam Dispersip Kalsel, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti pejabat struktural dan fungsional Dispersip Kalsel serta kepala dinas perpustakaan kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Workshop menghadirkan Ketua Tim IPLM dan TGM Nasional Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Irhamni, sebagai narasumber utama guna memberikan pemahaman terkait metode terbaru pengukuran IPLM dan TGM.

Kepala Dispersip Provinsi Kalimantan Selatan, Sri Mawarni mengatakan pengukuran IPLM memiliki peran penting sebagai tolok ukur perkembangan literasi masyarakat sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan literasi di daerah.
Menurutnya, saat ini pengukuran IPLM telah mengacu pada Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 yang menghadirkan pendekatan baru dalam proses penilaian.
“Regulasi ini menjadi pedoman bagi kita dalam menilai sejauh mana literasi masyarakat berkembang, sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan di tingkat daerah,” ujar Sri Mawarni.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, nilai IPLM Provinsi Kalimantan Selatan berada di angka 25,16, dengan dimensi kepatuhan sebesar 0,280 dan dimensi kinerja 0,246. Capaian tersebut menunjukkan masih terbuka ruang yang cukup besar untuk meningkatkan budaya literasi di Kalimantan Selatan.
Karena itu, ia berharap workshop tersebut mampu melahirkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.
“Melalui workshop ini kami berharap dapat terformulasi langkah-langkah strategis yang harus dilakukan, baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota, agar pembangunan literasi semakin optimal,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim IPLM dan TGM Nasional Perpusnas RI, Irhamni menjelaskan bahwa Perpusnas kini menerapkan metode pengukuran IPLM yang lebih komprehensif dengan melakukan penilaian hingga tingkat masing-masing perpustakaan.
“Metode yang baru ini lebih komprehensif karena kami melakukan pengukuran hingga level individu perpustakaan, baik perpustakaan umum, perpustakaan khusus, maupun perpustakaan sekolah,” jelasnya.
Ia menerangkan, pengukuran dilakukan berdasarkan empat dimensi utama yang terbagi dalam dua kelompok besar, yakni dimensi kepatuhan yang meliputi aspek koleksi dan sumber daya manusia (SDM), serta dimensi kinerja yang mencakup pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Menurut Irhamni, hasil sementara menunjukkan perpustakaan umum yang dikelola pemerintah daerah telah memperoleh skor 85 dari skala 100. Namun, kondisi perpustakaan sekolah masih menjadi perhatian karena baru meraih skor 23, sehingga memerlukan pembinaan dan dukungan anggaran yang lebih besar.
“Perpustakaan sekolah masih membutuhkan banyak pembenahan. Pengembangannya tentu memerlukan dukungan dari pemerintah daerah melalui dinas pendidikan sesuai kewenangannya,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara Dispersip Kalsel, pemerintah kabupaten/kota, dan Perpustakaan Nasional RI, diharapkan nilai IPLM dan Tingkat Gemar Membaca di Kalimantan Selatan terus meningkat sehingga budaya literasi masyarakat semakin kuat dan mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Banua. (Adv/Ilh)















