BANJARMASIN – Sepak bola bukan sekadar urusan taktik di atas lapangan hijau atau raihan tiga poin di setiap pertandingan. Lebih dari itu, sepak bola adalah tentang ikatan emosional dan rasa memiliki. Nilai luhur inilah yang dikedepankan oleh manajemen PS Barito Putera saat merespons dinamika suporter usai laga menghadapi Persiba Balikpapan di Stadion 17 Mei, Banjarmasin, Sabtu malam (10/10/2026).
Alih-alih menutup diri dari kritik, owner PS Barito Putera Hasnuryadi Sulaiman bersama jajaran manajemen langsung menginisiasi ruang dialog terbuka di Media Center stadion bersama perwakilan suporter Barito Mania. Pertemuan ini digelar untuk merespons berbagai aspirasi dan tuntutan suporter—termasuk evaluasi jajaran kepelatihan—dengan kepala dingin.
Langkah akomodatif tersebut berakar kuat pada pesan para pendiri klub, almarhum H Abdussamad Sulaiman HB dan almarhumah Hj Siti Nurhayati, yang sejak awal menanamkan prinsip bahwa suporter bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari roh keluarga besar Laskar Antasari.
Asisten Manajer PS Barito Putera, M Firman Dida Hasnuryadi, mengungkapkan bahwa dirinya menyaksikan langsung bagaimana owner klub meluangkan waktu untuk mendengar setiap keluh kesah dan masukan dari para pendukung setianya.
“Beliau mendengarkan dan menanggapi semua aspirasi yang hadir. Ini membuktikan bahwa beliau berpegang teguh dengan nilai-nilai yang dititipkan oleh almarhum founder, bahwa suporter bukan hanyalah penonton atau pendukung, tetapi betul-betul bagian dari keluarga besar Barito Putera,” ujar Firman.
Ia juga mengajak seluruh elemen klub dan masyarakat Banua untuk tidak terpecah belah oleh perbedaan pandangan, melainkan merajut kembali kebersamaan demi mencapai target besar promosi ke Liga 1 musim ini.
“Justru, mari kita jadikan momentum kemenangan malam ini sebagai energi positif untuk semakin bersatu dan bersama-sama berikhtiar mencapai target promosi pada musim ini,” tambahnya.
Senada dengan manajemen, Ketua Koordinator Barito Mania, Adul Bartman, mengapresiasi tinggi keterbukaan manajemen yang merangkul suporter layaknya anggota keluarga sendiri. Menurutnya, ruang dialog yang santai dan tanpa sekat membuat penyampaian aspirasi menjadi lebih bermakna.
“Kalau jujur, tindakan manajemen tadi, kita respek banar, kita senang didengar, dan tentunya manajemen langsung mengajak diskusi dengan para suporter. Itu menyenangkan. Tandanya manajemen welcome, manajemen tidak antikritik, dan itu yang kita senangi,” ungkap Adul.
Ia menegaskan, kritik tajam yang disuarakan suporter murni dilandasi oleh kecintaan mendalam terhadap klub kebanggaan Urang Banua tersebut, dan pihaknya akan terus mengawal komitmen evaluasi yang telah dibahas bersama manajemen.
Komitmen serupa turut ditegaskan oleh Asisten Manajer PS Barito Putera, Ikhsan Kamil, yang menyatakan bahwa manajemen memandang kritik sebagai vitamin penyehat untuk membangun tim yang jauh lebih kompetitif ke depannya.
“Kami sebagai manajemen tidak antikritik dan siap menerima masukan. Ini bentuk keterbukaan kami, karena memang suporter ini adalah roh tim,” tegas Ikhsan.
Melalui komunikasi yang cair dan berlandaskan semangat kekeluargaan ini, manajemen dan suporter Barito Putera membuktikan bahwa segala perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan duduk bersama, demi mengantar Laskar Antasari terbang tinggi di kancah sepak bola nasional.
















