BANJARMASIN – Persoalan layanan air bersih di Kota Banjarmasin saat ini bukan semata soal kemampuan instalasi pengolahan air. Di tengah kemarau dan intrusi air laut, jumlah air baku yang tersedia justru menjadi persoalan utama.
Pasokan air baku Banjarmasin menyusut sekitar 30 persen. Kondisi tersebut membuat air yang dapat diolah dan dialirkan ke jaringan distribusi ikut berkurang.
Dampaknya paling terasa di kawasan yang berada di ujung jaringan. Sejumlah warga mengalami aliran air yang mengecil hingga tidak mengalir seperti biasanya.
Kondisi itu menjadi perhatian Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR saat meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 di kawasan Pramuka, Selasa (29/9/2026).
Yamin datang bersama Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin, Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi beserta jajaran terkait untuk melihat langsung kondisi pengolahan dan ketersediaan air baku.
Menurut Yamin, air yang masih tersedia harus dimanfaatkan secara maksimal agar tetap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Air baku kita memang tidak mencukupi. Karena itu kita memastikan bagaimana air yang tersedia ini bisa diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar Yamin.
Banjarmasin saat ini mengandalkan dua instalasi pengolahan air dengan sumber air baku berbeda.
IPA 1 di kawasan Sungai Bilu menggunakan air Sungai Martapura. Namun, sumber tersebut terdampak intrusi air laut yang menyebabkan kadar garam meningkat.
Sementara IPA 2 di kawasan Pramuka memperoleh air baku dari Sungai Tabuk yang berjarak sekitar 11 kilometer dari instalasi pengolahan.
Perbedaan kondisi sumber air tersebut membuat pengelolaan pasokan harus dilakukan secara hati-hati. Ketika jumlah air baku yang tersedia menurun, volume air yang bisa diproduksi dan didistribusikan juga ikut terdampak.
Kondisi semakin terasa setelah air dengan kadar garam tinggi tidak lagi disalurkan kepada masyarakat.
Sebelumnya, air tersebut sempat disiapkan secara terbatas untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Namun, penyaluran kemudian dihentikan setelah mendapat respons kurang baik dari masyarakat.
“Awalnya kita sosialisasikan untuk MCK, tetapi banyak mendapat penolakan. Jadi kita hentikan penyaluran air asin dan mengalirkan air baku yang tersedia secukupnya,” kata Yamin.
Dengan terbatasnya pasokan melalui jaringan perpipaan, Pemko Banjarmasin menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki untuk wilayah yang mengalami kekurangan.
“Kalau ada kekurangan, nanti kita distribusikan dengan air tangki,” ujarnya.
Langkah tersebut disiapkan sebagai penanganan terhadap kebutuhan masyarakat dalam kondisi pasokan yang belum kembali normal.
Namun, persoalan yang terjadi saat ini juga menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan sumber air baku alternatif. Yamin menilai Banjarmasin membutuhkan cadangan yang bisa digunakan ketika kemarau panjang kembali terjadi.
Salah satu rencana yang kini didorong adalah pembangunan embung dengan kapasitas sekitar 1,1 juta meter kubik.
Yamin mengatakan rencana tersebut telah dibahas bersama Gubernur Kalimantan Selatan. Pemprov Kalsel membuka peluang kolaborasi dengan Pemko Banjarmasin untuk mewujudkan cadangan air baku tersebut.
“Harapan saya ini jangan hanya menjadi wacana. Kalau nanti terjadi kemarau yang sangat panjang, kita tidak perlu lagi bingung mencari air baku ke mana,” tegasnya.
Menurut Yamin, keberadaan cadangan air baku harus dipersiapkan sebelum kondisi darurat kembali terjadi. Dengan begitu, ketika sumber air utama mengalami penurunan debit atau terdampak intrusi air laut, masih tersedia alternatif untuk mendukung pelayanan air bersih.
Ia juga meminta jajaran komisaris dan direksi PT Air Minum Bandarmasih terus berkomunikasi dengan pemerintah agar rencana tersebut dapat segera ditindaklanjuti.
“Jangan sampai ketika kemarau panjang datang lagi, kita kembali menghadapi persoalan yang sama dan masyarakat kesulitan mendapatkan air,” ujarnya.
Yamin mengapresiasi perhatian Gubernur Kalsel terhadap kebutuhan cadangan air baku Banjarmasin. Ia berharap rencana pembangunan embung tidak berhenti pada pembahasan, tetapi dapat masuk ke tahap konkret.
Untuk menghadapi kondisi saat ini, Pemko Banjarmasin bersama PT Air Minum Bandarmasih akan tetap mengoptimalkan sumber air baku yang tersedia. Sementara wilayah yang mengalami kekurangan pasokan akan mendapat dukungan distribusi air melalui mobil tangki.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan layanan air bersih Banjarmasin tidak hanya bergantung pada kemampuan instalasi pengolahan, tetapi juga pada ketersediaan sumber air baku yang mencukupi.
















