BANJARMASIN – Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Banjarmasin terus memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat salah satunya melalui pengembangan budidaya jamur tiram di kawasan transmigrasi.
Langkah ini diawali melalui kegiatan identifikasi lapangan di Desa Danda Jaya dan studi tiru praktik budidaya ke Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin yang telah berhasil mengembangkan budidaya jamur.
Pada Rabu (21/01), Tim Kerja Demonstration Plot (Demplot) BPPMT Banjarmasin melakukan kunjungan ke Kelompok Tani Mutiara Alam di Desa Danda Jaya, Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, dalam rangka identifikasi awal budidaya jamur sebagai dasar penyusunan program pendampingan masyarakat.
Desa Danda Jaya merupakan desa eks transmigrasi yang termasuk dalam Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru dan jamur tiram adalah salah satu produk unggulan desa yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.

Kegiatan identifikasi difokuskan pada pemetaan kondisi usaha budidaya jamur tiram yang sudah berjalan, mulai dari sarana produksi, teknik budidaya, hingga tantangan yang dihadapi dilapangan.
Hasil identifikasi ini nantinya akan dibandingkan dengan praktik budidaya yang telah berhasil di tempat lain sebagai bahan perumusan model pendampingan yang tepat.
Sebagai bahan pembanding dan penguatan teknis, BPPMT Banjarmasin juga melaksanakan kunjungan studi tiru ke Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin pada Jumat (23/01).
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pegawai BPPMT Banjarmasin yang selama ini terlibat aktif dalam program pelatihan dan pendampinga Masyarakat, khususnya Penggerak Swadaya Masyarakat yaitu Titi Sugiarti, SP, MM; Firman Hernawan, S.Sos.I; Dr. Muhammad Azmi, S.PKP, MP; Istiqomah, S.Pi; serta Meri Tripaulina Sihite, SP yang merupakan tim kerja Demontration Plot (Demplot).
Kegiatan Studi Tiru ini bertujuan mempelajari secara langsung praktik baik (best practice) budidaya jamur tiram yang dikelola oleh DKP3 Kota Banjarmasin sebagai bagian program ketahanan pangan dan pemberdayaan Masyarakat, mulai dari persiapan media tanam (baglog), teknik inokulasi bibit, perawatan kumbung, hingga manajemen produksi dan pengendalian kualitas untuk meminimalkan risiko kegagalan.

Firman Hernawan, S.Sos.I, yang turut mengikuti studi tiru, menyampaikan bahwa kegiatan ini digunakan sebagai bahan perbandingan dan memperkuat rencana program pendampingan masyarakat transmigrasi ke depan.
“Kegiatan identifikasi di Desa Danda Jaya memberi gambaran kondisi riil petani jamur di kawasan transmigrasi, sementara studi tiru di DKP3 memberikan referensi praktik budidaya yang sudah tertata dengan baik. Perbandingan ini akan menjadi dasar penyusunan model budidaya dan skema pendampinganyang lebih tepat dan aplikatif untuk masyarakat transmigrasi.” Ujarnya
Ia menambahkan, BPPMT Banjarmasin akan membangun unit budidaya jamur tiram di lingkungan balai sebagai demplot percontohan dan sarana pembelajaran dalam pengembangan komoditas jamur tiram.
“Rencananya Balai akan membuat demplot budidaya jamur tiram sebagai proyek percontohan sekaligus media uji coba pengembangan budidaya dengan pendekatan teknologi IoT untuk pengaturan suhu dan kelembapan. Harapannya, ketika pola budidaya tersebut sudah berhasil diterapkan di Balai, nantinya dapat direplikasi di kawasan-kawasan transmigrasi sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan efektivitas budidaya jamur, khususnya di Desa Danda Jaya” kata Firman.
Melalui tahapan identifikasi, studi tiru, serta pengembangan demplot budidaya di lingkungan balai, BPPMT Banjarmasin akan merencanakan program lanjutan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan masyarakat. Demplot berbasis teknologi IoT ditargetkan menjadi sarana uji coba sekaligus media pembelajaran untuk merumuskan model budidaya jamur tiram yang lebih aplikatif dan terukur.
Dengan demikian, model yang dihasilkan diharapkan dapat direplikasi di kawasan transmigrasi sebagai alternatif usaha yang mendukung ketahanan pangan serta mendorong peningkatan ekonomi lokal masyarakat.
(Vety Fatimah/BPPMT Banjarmasin)














