Paringin – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan mulai menyusun langkah strategis untuk mengabadikan peristiwa banjir bandang yang pernah menerjang Kecamatan Tebing Tinggi melalui buku dan film dokumenter.
Pendokumentasian tersebut dirancang sebagai pengingat sekaligus sarana edukasi mitigasi bencana bagi generasi mendatang. Rencana tersebut diawali dengan rapat penyamaan persepsi yang digelar BPBD Balangan bersama sejumlah pihak terkait di kantor BPBD Balangan pada Selasa (17/3/2026). Pertemuan itu bertujuan menyelaraskan narasi, menghimpun data teknis, serta menggali kembali kesaksian otentik terkait kronologi bencana yang sempat melumpuhkan wilayah pegunungan Meratus.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, pada Rabu (18/3/2026) mengatakan pendokumentasian tersebut bukan sekadar upaya mengarsipkan kejadian masa lalu, melainkan menjadi instrumen penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi ancaman bencana serupa di masa mendatang.
Ia menyampaikan, BPBD ingin menghimpun kembali informasi dan fakta lapangan secara utuh mengenai kejadian banjir bandang di Tebing Tinggi agar dokumenter tersebut dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus memperkuat mitigasi dan kewaspadaan.
Melalui visualisasi film dan narasi dalam buku, BPBD Balangan ingin menunjukkan secara rinci pola serangan banjir bandang serta dampaknya terhadap lingkungan maupun infrastruktur.
Dengan memahami karakteristik bencana tersebut, masyarakat diharapkan memiliki persepsi yang sama dalam melakukan langkah penyelamatan mandiri ketika menghadapi situasi darurat.
Rahmi menekankan bahwa penguatan mitigasi di tingkat masyarakat menjadi kunci dalam meminimalisasi risiko korban jiwa maupun kerugian materiil akibat bencana.
Informasi yang nantinya disajikan dalam buku dan film dokumenter tersebut juga direncanakan menjadi bahan sosialisasi rutin ke desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana.
Menurutnya, dokumentasi sejarah bencana dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus lebih responsif terhadap sistem peringatan dini.
Saat ini, tim penyusun mulai mengumpulkan berbagai rekaman kejadian, dokumentasi kerusakan, hingga wawancara dengan para penyintas guna mendukung proses produksi dokumenter secara komprehensif. (Rv)
















